SENTIMEN POSITIF: Perajin serat alam tengah menyelesaikan order pesanan dari luar negeri, kemarin.
KULONPROGO – Melemahnya kurs rupiah terhadap dolar ternyata berdampak positif terhadap produksi kerajinan serat alam di Kulonprogo. Melemahnya rupiah membuat pasar ekspor bergairah, pesanan naik hingga 15 persen dalam beberapa pekan terakhir.”Rupiah yang melemah ternyata membuat pesanan ekspor justru meningkat, kami masih diuntungkan karena harga bahan baku juga masih sama,” terang Agus Riyanto, pengusaha kerajian serat alam warga Tanggulangin, RT 29 RW 10, Tanjungharjo, Nanggulan, kemarin.
Agus mengatakan, kondisi ini masih berpi-hak kepada perajin seperti dirinya. Namun dengan catatan, bahan baku dan biaya ope-rasional harus bisa stabil. “Kebetulan untuk bahan baku kita sudah bisa produksi sendiri, dan tenaganya juga tidak banyak menggunakan mesin alias home industry. Jadi kalau ditanya dampak negatif melemahnya kurs rupiah kami belum mera-sakan,” katanya.
Menurut Agus, kenaikan permintaan pasar ekspor saat kurs rupiah melemah tidak akan berrati jika semua kebutuhan pokok di pasa-ran ikut naik. Ia berharap, kurs rupiah bisa menguat kembali dan semua harga di pasaran bisa normal.”Kalau untuk produksi kerajinan belum ber-imbas, namun dengan harga kebutuhan di pasar yang naik ya jatuhnya akan sama saja. Dapat untung banyak tapi apa-apa mahal yang sa ma saja,” tandasnya.
Agus menuturkan, selama ini ia masih di-bantu perantara untuk melayani pasar luar negeri (ekspor). Sehingga harga jual harus mengikuti pabrik atau eksportir, home industry di Tanggulangin yang dikelolanya bisa mempro-duksi 1.000 set per bulan.”Kerajinan berupa tas, karpet, boks dan anyaman tali di ekspor ke Amerika, sebagian lagi ke Eropa seperti Prancis, Jerman dan Spa-nyol. Sedangkan pasar lokal ke Bali dan Ja-karta,” ungkapnya. (tom/ila/ong)