KULONPROGO – Titik kekeringan tahun ini masih sama dengan tahun lalu. Berdasarkan pemetaan ada 118 titik rawan kekeringan yang tersebar di delapan kecamatan dari total 12 kecamatan di Kulonprogo. Ada total 6.689 KK atau 20.928 jiwa yang merasakan dampak kekeringan tahun ini.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo Untung Waluya menjelaskan, di Kulonprogo kekeringan rutin terjadi setiap tahunnya. Pemkab telah mengambil langkah untuk mengatasi dampak kekeringan, salah satunya melalui droping air bersih. Selebihnya melalui jaringan pipa dan sistem pengadaan air bersih lainnya dari sumber mata air terdekat, di beberapa wilayah.
“Proses droping sudah belangsung, setiap permohonan masuk kami koordinasikan dengan PDAM. Jauh hari, koordinasi sudah dilakukan bersama PMI, dinsos, PDAM, kepolisan dan camat,” ujarnya, kemarin (30/8).
Untung mengungkapkan, teknis droping air di masing-masing daerah di DIJ memiliki cara sendiri-sendiri. Namun di Kulonprogo tidak ada dana rutin yang melekat. Kekeringan sebagai sebuah bencana yang perlu ditangani dengan status darurat bencana.Maka penanganan bencana kekeringan di Kulonprogo akan maksimal jika sudah dikeluarkan status darurat kekeringan oleh bupati.
“Artinya dana droping air bersih tetap menunggu status darurat bencana. Toh, cara lain seperti menggali sumber dana corporate social responsibility (CSR) dan minta bantuan ke provinsi terus diupayakan,” ungkapnya.
Untung menjelaskan, delapan kecamatan yang dilanda kekeringan di antaranya di Desa Banjaroyo, Banjarharjo, Banjarsari serta Banjararum di Kecamatan Kalibawang. Kemudian Desa Purwoharjo, Kebonharjo, Pagerharjo Sidoharjo, Banjarsari, dan Ngargosari di Kecamatan Samigaluh.
“Kemudian empat desa di Kecamatan Girimulyo. Serta di Kecamatan Kokap dan Sentolo,” terangnya.
Untung mengatakan, sumber mata air di Kulonprogo sebetulnya masih banyak, namun kadang untuk memanfaatkannya terganjal dengan kebutuhan sarana prasarana lainnya. Untung mencontohkan, sumber mata air di Desa Banjarasri, Kalibawang. Di sana ada sumber mata air dengan debit yang tinggi namun belum ada listrik.
“Sudah pernah diangkat dengan diesel, namun dengan biaya operasionalnya yang tinggi, warga tetap menunggu ada aliran listrik terlebih dahulu,” ungkapnya.
Sementara sumber mata air yang digunakan untuk droping masih mencukupi, harapannya bulan Oktober sudah turun hujan sehingga kekeringan berakhir. Namun dampak El Nino menyebabkan kemarau tahun ini lebih panjang. “Fakta alam tidak bisa diingkari, apapun yang terjadi pemerintah harus siap,” tegasnya. (tom/ila/ong)