ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
PROPORSIONAL: Tri Kundono menunjukkan gambar wayang hasil kreasinya. Melalui gambar ini, pria yang akrab disapa Thuthun ini kemudian menerapkannya di atas kulit. Gambar ini dijadikan acuan membuat wayang.

Wayang Era Sebelum HB VIII Dianggap Paling Ideal

Beda wilayah, berbeda pula pakem dunia pewayangan dan pedalangan. Melalui keahliannya sebagai pembuat wayang dan dalang, Tri Kundono, 37, getol mengampanyekan seni tradisi adiluhung ini.
ZAKKI MUBAROK, Sewon
BUAH jatuh tak jauh dari pohonnya. Pepatah lama tersebut sepertinya tepat untuk menggambarkan bakat dan keahlian yang dimiliki Tri Kundono. Ya, darah seni yang mengalir dalam tubuhnya merupakan turunan dari kedua orang tuanya.
Bapaknya bernama Margiono atau dikenal dengan Ki Bagong yang merupakan salah satu dalang senior di DIJ. “Mamak (ibu) juga dalang. Nama panggungnya Nyi Yatini,” terang Thuthun, sapaannya, saat ditemui di rumahnya di Dusun Kepek, Timbulharjo, Sewon, belum lama ini (28/8).
Berkat darah seni ini, bakat dan keahlian Thuthun kecil sudah terlihat. Jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta ini menceritakan, saat dia masih kecil kerap dimarahi orang tuanya. Gara-garanya, hampir seluruh buku pelajaran penuh dengan gambar wayang.
Seiring waktu berjalan, Thuthun kemudian menuangkan bakat dan keahliannya membuat wayang dengan memanfaatkan kardus dan bekas bungkus rokok sebagai objeknya. Kardus dan bekas bungkus rokok ini dia gambari terlebih dahulu sesuai karakter tokoh wayang yang diinginkannya.
Berikutnya, dia menggunting kardus dan bungkus bekas rokok tersebut agar menjadi karakter tokoh wayang “mini”. Di tengah kesibukannya menjadi dalang, bakat dan keahlian Thuthun ini mulai tercium para pecinta wayang. Hingga sekarang tak sedikit para pecinta wayang di Indonesia yang sengaja memesan wayang hasil kreasinya. Di antara mereka adalah bekas Ketua DPW PKB DIJ Almarhum Agus Wiyarto dan Kepala Basarnas Bambang Soelistyo.
Menurutnya, bentuk karakter tokoh wayang hasil kreasinya berbeda dengan karakter tokoh wayang lainnya, meskipun sama-sama mengacu gagrak Ngayogyakarta. Salah satu perbedaannya terletak pada ukuran kaki dan panjang tangan karakter tokoh wayang.
“Buatan saya kaki kiri lebih besar (beberapa milimeter). Kemudian untuk tangannya, sambungan yang bawah lebih panjang daripada sambungan atasnya (lengan),” paparnya.
Inilah yang membuat karakter tokoh wayang hasil buatan Thuthun banyak digandrungi pecinta wayang gagrak Ngayogyakarta. Thuthun mengaku memberanikan diri keluar dari standar umum yang berlaku saat ini. Toh, bentuk dan ukuran karakter tokoh wayang di setiap era berbeda-beda.
Contohnya, wayang buatan era HB VIII dengan periode sebelumnya. Bentuk dan ukuran karakter tokoh wayang era sebelum HB VIII jauh lebih baik.
“Prinsipnya, wayang yang penting enak ditonton dan dimainkan,” tandasnya.
Tak hanya mempelopori pembuatan bentuk karakter tokoh yang proporsional, Thuthun juga getol mengampanyekan penggunaan karakter tokoh wayang yang tepat dalam setiap pementasan. Sebagai pemerhati dan pecinta kesenian wayang, Thuthun mengaku sempat prihatin dengan dunia pewayangan dan pedalangan di DIJ.
Beberapa tahun lalu, tak sedikit dalang yang menggunakan karakter tokoh wayang yang salah dalam pementasan. Dia mencontohkan, saat pementasan ada dalang yang “memaksa” menggunakan karakter tokoh Gatotkaca saat melakukan penyamaran dengan karakter Brotoseno.
Seharusnya, karakter tokoh yang digunakan adalah Werkudoro. Meskipun dua karakter tersebut sebetulnya sama-sama menggambarkan sosok Gatotkaca. “Gatotkaca dibagi beberapa karakter. Karakternya beda-beda tergantung penggunaannya,” bebernya.
Bahkan, saking parahnya pernah ada dalang yang memasukkan karakter tokoh wayang cerita Mahabarata ke dalam pementasan dengan background cerita Ramayana. “Masa ada Sugriwo, Subali, Anoman, dan Anggodo tapi di situ juga ada bolodewo,” keluhnya.
Thuthun menegaskan, tak bisa ambil diam dengan praktik pewayangan dan pedalangan yang sudah salah kaprah itu. Sebab, jika dibiarkan anak kecil yang akan terjun ke dunia seni tradisional bisa tersesat. “Idealnya, saat pementasan dalang harus membawa 150 karakter,” ucapnya.
Karena itu, pria kelahiran 1979 ini menyarankan agar para pemula yang ingin belajar seni pewayangan dan pedalangan tak sembarangan memilih guru. Berkat perjuangannya sebagai pembuat wayang dan dalang, Thuthun merasa cukup puas dengan dunia pewayangan dan pedalangan di DIJ. Tak sedikit wayang buatannya yang digunakan para dalang saat pementasan. “Sekarang juga banyak dalang yang sudah pas menggunakan karakter,” ungkapnya. (din/ong)