Bangun Miniatur Museum Hubungan Kasultanan Mataram Islam-Kerajaan Usmani

Gelar Khalifatullah di belakang Raja Kasultanan Ngayogyakarta memang telah ditanggalkan. Raja Keraton Mataram Islam itu pun telah berganti Sri Sultan Hamengku Bawono Kasepuluh. Tapi, hal tersebut bukan berarti menutup sejarah hubungan leluhurnya Kasultanan Mataram Islam dengan Kerajaan Utsmani.
HERI SUSANTO, Jogja
OTTOMAN Empire tak hanya akrab bagi telinga warga Eropa. Bagi orang Indonesia, khususnya Jogjakarta, kebesaran kerajaan yang dikenal Turki Utsmani tersebut begitu dikenal. Sebab, tak bisa dipungkiri, peradaban di Jogjakarta yang diawali berdirinya Kerajaan Mataram Islam banyak terpengaruh dengan Kerajaan Turki Utsmani.
Ini bahkan diakui penerus Kasultanan Mataram Islam yang kini telah menanggalkan identitas keislaman pada gelarnya. Saat membuka Konferensi Umat Islam (KUI) ke-VI beberapa waktu lalu, Raja Keraton yang masih bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono X mengungkapkan, hubungan tersebut.
Sri Sultan Hamengku Bawono 10 mengungkapkan, hubungan Khilafah Utsmaniyah dengan tanah Jawa. “Sultan Turki Utsmani meresmikan Kesultanan Demak pada tahun 1479 sebagai perwakilan resmi Khalifah Utsmani di tanah Jawa.”
Peresmian tersebut, lanjut HB 10, ditandai dengan penyerahan bendera hijau bertuliskan kalimat tauhid. “Bendera hadiah Sultan Utsmani masih tersimpan baik di Keraton Jogja,” ujarnya.
Menurutnya, Sultan Turki pula yang mengukuhkan Raden Fatah sebagai khalifatullah di Jawa. “Perwakilan Khilafah Turki di Tanah Jawa, ditandai dengan penyerahan bendera hitam dari kiswah Ka’bah bertuliskan kalimat tauhid, dan bendera hijau bertuliskan Muhammad Rasulullah,” tuturnya.
HB 10 juga menyebutkan pada 1903 saat dilakukan kongres khilafah di Jakarta, Sultan Turki mengutus M Amin Bey yang menyatakan haram hukumnya penguasa Muslim tunduk pada Belanda.
Ia juga menyebut atas dorongan Sultan, salah satu abdi ngarso dalem kemudian mendirikan organisasi Muhammadiyah. “Dialah KH Ahmad Dahlan!” tegasnya.
Hubungan ini lah yang rencananya akan terus dipererat. Rencana mempererat hubungan tersebut, ditandai dengan kunjungan dari Administrative Affairs Manager Pemkot Istanbul, Salih Dogan ke Jogja, dalam hal ini ke Pemkot Jogja, kemarin (31/8).
Pengelola Museum Penaklukkan Konstantinopel itu datang secara khusus untuk mempererat hubungan yang dalam nilai sejarahnya sangat kuat. Saat bertemu dengan Wali Kota Haryadi Suyuti di balai kota, Salih Dogan berencana membangun museum kecil. Museum tersebut merupakan miniatur dari Panorama 1453. Sebuah museum yang menceritakan penaklukkan Konstaninopel oleh Sultan Fatih I.
“Hubungan Indonesia dengan Turki telah terjalin lama. Itu merupakan sejarah yang bisa mempererat hubungan Indonesia dengan Turki,” jelas Salih, dengan bahasa Turki.
Bentuk untuk mempererat itu, lanjut Salih, bisa dengan berbagai program. Salah satunya pengembangan kajian sejarah bagi generasi penerus di kedua negara. “Hubungan Indonesia atau Jogja dengan Turki tidak bisa dipisahkan,” lanjutnya.
Wali Kota Haryadi Suyuti menyambut positif rencana Pemkot Turki untuk kerja sama. Haryadi pun mengaku, telah menawarkan Pemkot Istanbul untuk membuka miniatur Panorama 1453 di Taman Pintar.
“Karena sebagai ilmu sejarah, bisa saja digabungkan dengan benda-benda sejarah yang berkaitan dengan hubungan Kasultanan Mataram dan Turki Utsmani,” tuturnya.
Haryadi menegaskan, pembukaan wahana baru di Taman Pintar ini merupakan bagian ilmu pengetahuan. Khususnya ilmu sejarah yang bisa memperkaya wahan di Taman Pintar. “Ini sangat menarik untuk bisa ditindaklanjuti dari sisi legalnya,” tambahnya.(jko/ong)