HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
MELIHAT LOKASI: Kunjungan lapangan Komisi II dan III DPRD Kulonprogo di Pelabuhan Tanjung Adikarto, kemarin (1/9).
KULONPROGO – Dewan mengaku khawatir proses pengerukan kolam Pelabuhan Tanjung Adikarto di Desa Karangwuni, Wates terlambat alias molor. Pasalnya, peralatan yang di-gunakan rekanan dinilai kurang me-menuhi kapasitas ideal, selain kecil juga teramat sederhana. Sementara pekerjaan yang harus diselesaikan sangat besar.”Alat pengeruk tidak memenuhi kapasitas ideal. Pekerjaan ini akan berakhir pertengahan bulan November mendatang. Kalau alatnya hanya seperti ini apa mungkin akan selesai tepat waktu,” kata Ketua Komisi III Hamam Cahyadi disela kunjungan lapangan Komisi II dan III DPRD Kulonprogo di pelabuhan, kemarin (1/9).
Kunjungan lapangan juga menyerta-kan beberapa pekerja dari PT Hamdaru Adi Putra selaku rekanan yang tengah mengoperasikan diesel untuk menyedot pasir dari dasar kolam. Namun, pipa besar yang dipasang untuk menaikkan pasir ke sebelah selatan kolam sama sekali tak berfungsi. Tak ada air ataupun pasir yang keluar dari mulut pipa yang tersambung sepanjang sekitar 70 meter tersebut.Hamam menegaskan, pengawas pekerjaan harus mengawasi secara ketat. Jika peralatan yang digunakan tidak memadahi, maka rekanan perlu mengganti dengan alat yang lebih representatif. Agar pekerjaan itu bisa selesai tepat waktu. Menurutnya, satuan kerja perangkat daerah (SKPD) pengampu pembangunan Pelabuhan Tanjung Adikarto juga harus mene-rapkan teknologi permanen dalam pengerjaan kolam. “Karena, selama ini yang dilakukan hanya pengerukan. Padahal sedimentasi kolam tersebut sangat tinggi karena merupakan lahan pasir,” tegasnya.Menurut Hamam, jika hanya dikeruk dalam waktu yang sangat pendek akan terjadi pendangkalan kembali. “Ini tidak efektif, perlu dilakukan rekayasa teknologi agar hasil pengerukan bisa bertahan lama,” ungkap politikus PKS tersebut.
Anggota dewan lainnya Muhtarom juga menyayangkan kinerja rekanan yang dinilai kurang professional, lantaran hanya mengunakan peralatan yang sederhana. Pelabuhan tersebut direncanakan beroperasi tahun depan. Kalau pengerjaannya seperti itu, ia juga khawatir rencana tersebut tidak terealisasi.Menurut Muhtarom, seharusnya alat yang digunakan seperti yang dipakai untuk mengeruk di bagian pintu masuk pelabuhan. Selain mesin pengeruknya berkapasitas besar, pipa pembuangannya juga kuat. “Saya mendapat informasi jika di-gunakan untuk membuang pasir, sambungan pipa ini juga putus. Kalau ini berlangsung terus bisa dipastikan pengoperasian pelabuhan akan mundur. Padahal para nelayan sangat berharap pelabuhan ini secepatnya bisa di-gunakan,” ujarnya. (tom/ila/ong)