JOGJA – Ratusan mahasiswa yang mengatasnamankan Aliansi Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga(AMUK) mengeruduk gedung rektorat UIN Sunan Kalijaga, Rabu siang (2/9) sekitar pukul 13.40.
Para mahasiswa Sunan Kalijaga (Suka) menduduki rektorat kampus setempat, menuntut pihak kampus menyelesaikan kisruh Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang tak kunjung selesai. Mereka menilai, UKT yang diterapkan, dinilai memberatkan mahasiswa.
Sembari berorasi dan membawa spanduk, mereka mulai melakukan aksi unjuk rasa di depan rektorat. Selang beberapa lama, sebanyak 18 perwakilan mahasiswa diterima pihak rektorat untuk berdialog.
Selanjutnya, pengunjuk rasa memasuki rektorat. Mereka membaca salawat dipimpin salah satu pimpinan aksi.
Koordinator Umum Aksi AMUK Hilful Wudul, mengatakan, mereka mempermasalahkan UKT yang dinilai tidak transparan. Termasuk di dalamnya Biaya Kuliah Tunggal (BKT) dan Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN).
“Menyebabkan melambungnya nominal UKT pada golongan 2 dan 3,” katanya.
Dalam tuntutannya, mereka mendesak rektor UIN turun tangan menyelesaikan soal UKT. Selain itu, mereka juga minta pengelolaan BKT dan BOPTN lebih transparan.
“UKT tidak tepat sasaran, karena itu perlu dikaji ulang. Instruksikan pada Kaprodi merumuskan ulang UKT dan mahasiswa perlu dilibatkan,” terangnya.
Besaran UKT di UIN Sunan Kalijaga, untuk golongan 1 sebesar Rp 400 ribu per semester, golongan 2 naik dari kisaran Rp 600 ribu-Rp 900 ribu menjadi Rp 1,3 juta-Rp 3 juta per semester. Sedangkan golongan tiga, sebelumnya Rp 1,7 juta sampai Rp 6 juta.
Setelah berdialog hampir dua jam, pertemuan memutuskan pihak rektorat mengakomodasi tuntutan mahasiswa.
“Perjurusan dalam satu kelas akan ada satu orang yang membahas besaran UKT. Transparansi BKT dan BOPTN yang dibuat kampus. Merombak seluruh besaran UKT mahasiswa baru yang keberatan yang dibuat kampus. Mekanisme perombakan akan dimulai pekan depan,” papar Artawijaya, kordinator massa yang ikut berdialog dengan pihak rektorat.(riz/hes/ong)