Ditendang, Tersungkur, Sang Ayah Malah Bangga

Usianya tak lagi muda, tapi Doel Wahab tetap saja fasih dengan gerakan-gerakan pencak silat. Dedikasinya terhadap beladiri asli Indonesia tersebut, pria berusia 83 tahun ini dianugerahi penghargaan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
KULITNYA sudah dipenuhi keriput dan kerut. Tubuhnya pun tak lagi tegap saat berjalan. Itu bisa dimaklumi, karena delapan puluh tiga tahun sudah tubuhnya menopang hidup.
Meski secara fisik tak lagi muda, namun spiritnya untuk hidup masih bergelora. Apalagi saat membicarakan tentang pencak silat, beladiri yang sudah dipelajarinya sejak masih berumur tujuh tahun. Suaranya lantang dan masih menggebu-gebu.
Bagi pria yang akrab disapa Mbah Doel ini, pencak silat bukan sekadar ketangkasan menyerang dan membela, tapi ada banyak aspek yang bisa dipelajari dari beladiri ini. Salah satunya tentang sikap diri. Menjadi seorang jago silat, bukan berarti menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk menjadi jagoan. Justru kemampuan itu dijaga, dan dipergunakan untuk hal-hal positif.
Masih segar dalam ingatannya, sewaktu kecil pernah ditendang oleh kakaknya sendiri hingga tersungkur. Bahkan Mbah Doel sempat kehilangan kemampuan untuk menggunakan kedua kakinya.
“Tapi nggak papa, bapak malah bangga saya tidak berkelahi. Karena saat yang selalu saya ingat, adalah pesan ibu, kalau orang jangan sombong hanya karena memiliki kemampuan beladiri. Makanya, sampai sekarang pun saya tidak mempergunakan pencak silat untuk berkelahi,” tuturnya.
Pencak silat sudah menjadi bagian hidup perajin topeng dan barongsai ini. Tepat 58 tahun lalu, Mbah Doel bersama anggota misi kebudayaan mendapat mandat untuk melakukan misi kebudayaan mewakili Indonesia. Saat itu, dirinya mendapat kepercayaan untuk memperkenalkan pencak silat ke mancanegara.
Selama kurang lebih 3,5 bulan, Mbah Doel keliling Cekoslovakia, Polandia, Rusia, Hongaria dan Mesir. “Itu tahun 1957, saya dikirim ke Eropa Timur untuk jadi duta kebudayaan bersama empat pesilat lainnya,” ujar sesepuh dan pendiri naga barongsai Isakuiki ini.
Atas dedikasinya kepada pencak silat yang telah dipelajari sejak usia muda hingga saat ini, Mbah Doel mendapat apresiasi dari Kemenpora. Pemberian penghargaan dilakukan Sabtu (29/8) lalu di Gedung Societet TBY oleh wakil Kemenpora Alwan Hadri.
Semangatnya untuk memasyarakatkan pencak silat, tidak hanya terhenti usai menjalani misi kebudayaan di era Presiden Soekarno tersebut. Lewat paguyuban naga barongsai yang didirikannya, Mbah Doel mengemas gerakan-gerakan pencak silat menjadi dasar permainan naga barongsainya.
“Karena pencak silat itu ada empat aspek, olahraga, seni, prestasi dan mental spiritual. Sisi seninya saya munculkan lewat permaianan naga barongsai, dengan mengambil gerakan-gerakan pencak silat,” ujarnya.
Mengenal betul dan masih terus mempelajari pencak silat, Mbah Doel memendam rasa kecewa akan perkembangan pencak silat akhir-akhir ini. Sejak dinobatkan menjadi salah satu olahraga, hanya aspek itu yang selalu disorot.
“Dalam olahraga prestasi, kaidah atau ciri khas pencak silat hilang. Yang ada hanya gerakan untuk mencari angka, itu sangat disayangkan. Karena pencak silat punya ciri khas yang tidak dimiliki oleh beladiri lain, harusnya itu juga diangkat,” ujar Mbah Doel.(jko/ong)