GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
BERDUKA: Raja Jogja Sultan Hamengku Bawono 10 saat memberikan penghormatan terakhir pada ibu tirinya, Kanjeng Raden Ayu (KRAy) Nindyokirono, kemarin (3/9).
JOGJA – Istri kelima Sri Sultan Hamengku Buwono (IX), Kanjeng Raden Ayu (KRAy) Nindyokirono meninggal Rabu malam (2/9) pukul 23.00 WIB di Jakarta karena sakit. Kanjeng Nindyo, yang dipersunting HB IX pada 1976 silam tersebut, meninggal di usia 84 tahun. Jenazah dimakamkan di kompleks makam Saptonegoro, Imogiri, Bantul, kemarin (3/9).Dalam proses pemakaman, upacara pem-berangkatan jenazah dilakukan tanpa ada-nya sambutan. Jenazah yang berada di dalam peti putih langsung diangkat abdi dalem dari Bangsal Manis tak lama setelah Sultan Hamengku Bawono 10 dan permai-suri GKR Hemas hadir di lokasi. HB 10 lantas menyalami beberapa pelayat, ter-masuk Menteri Agraria/Kepala BPN Ferry Mursyidan Baldan. Setelah itu, HB 10 dan Hemas duduk di tratag Bangsal Kencono
Peti jenazah Ny Norma Musa, nama Nindyokirono sebelum diperistri HB IX diusung keluar kompleks keraton. Di belakang peti jenazah, berjalan HB 10 yang dipayungi abdi dalem bersama Hemas diikuti para pelayat lain-nya. Beberapa pejabat seperti Bupati Kulonprogo Hasto War-doyo, Wakil Wali Kota Imam Priyono, dan Plt Bupati Sleman Gatot Saptadi, turut melepas peti jenazah hingga regol ma-gangan kidul sebelum dibawa menuju peristirahatan terakhir di kompleks Saptorenggo Makam Imogiri, Bantul. Sedangkan dari internal keraton adik-adik HB 10 yang terlihat di acara hanya tiga orang. Mereka adalah KGPH Hadiwinoto, GBPH Hadisuryo, dan GBPH Cakraningrat.”Saya bertugas mengawal je-nazah dari Jakarta hingga pema-kaman di Imogiri,” ujar GBPH Hadisuryo yang melayat mengena-kan busana surjan lurik.
Hubungan Hadisuryo dengan ibu tirinya itu memang dekat. Sebab, pangeran yang bernama kecil BRM Kasworo itu sama-sama tinggal di Jakarta. Hadisu-ryo juga dipercaya menjadi aju-dan pribadi HB IX selama be-rada di Jakarta. Sedangkan Nin-dyokirono menjadi istri yang sehari-hari selalu mendampingi HB IX ke mana pun. Termasuk hari-hari terakhir sebelum wafat di Amerika Serikat 2 Oktober 1988.Kembali ke acara pemakaman, jasad Nindyokirono berada satu lokasi dengan suaminya maupun empat istri HB IX lainnya.Berdasarkan catatan Nindyo-kirono dinikahi HB IX pada 1976 saat masih menjabat Wapres. “Almarhumah itu asalnya dari Bangka masih kerabatannya man-tan Menteri Luar Negeri Muham-mad Roem,” ungkap salah satu putra HB IX, KGPH Hadiwinoto.
Ia menjadi istri terakhir HB IX. Sebelum menikahi Norma, HB IX telah memiliki empat istri, yakni KRAy Pintoko Purnomo, KRAy Windyaningrum, KRAy Hastungkoro dan KRAy Tjipto-murti. “HB IX menikahi Bu Norma setelah Ibu Tjiptomurti meninggal,” cerita Hadiwinoto. Dari perkawinan dengan lima istri itu, hanya dari Nindyoki-rono, HB IX tak punya keturunan. Sedangkan dari empat istri ter-dahulu melahirkan 22 anak, ter-diri 15 laki-laki dan tujuh perem-puan. Meski tak melahirkan keturunan, boleh dibilang Nindyo-kirono yang punya kedekatan dengan HB IX. Ia memiliki rumah di Bogor yang dinamakan Swarnabhumi. Istana tersebut dibangun HB IX mirip bangunan Keraton Jogja. (kus/pra/jko/ong)