GUNTUR AGA/Radar Jogja
JOGJA – Kolaborasi indah tersaji antara Jogja Video Mapping Project (JVMP) dan Panggung Krapyak Jogjakarta, Jumat malam (4/9). Sisi selatan, barat dan timur bangunan bersejarah milik Keraton Jogjakarta ini direspon dengan indahnya cahaya projector video mapping.
Aksi JVMP ini merupakan salah satu rangkaian penutup video mapping di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 27. Mapping ini merupakan kali kedua, setelah sebelumnya 30 Agustus lalu menggarap Gedung Utama DPRD DIJ. Kali ini, JVMP pun menyajikan tiga karya.
“Kita memang memilih gedung-gedung bersejarah di Jogjakarta untuk kita respon. Tujuannya mengangkat keindahan gedung yang berkolaborasi dengan teknologi video mapping,” kata Koordinator JVMP Raphael Donny.
Aksi mereka di bangunan bersejarah ini terbilang kreatif. Ketiga sudut bangunan tua ini pun direspon dengan beragam pola visual yang indah. Mulai dari efek 3 dimensi hingga permainan warna dihadirkan oleh JVMP.
Untuk kali ini JVMP menghadirkan tiga karya dari Lepaskendali, Awevision dan kolaborasi Dhanank Pambayun, Raphael Donny, Yennu Ariendra. Ketiganya tampil dengan ciri khas masing-masing. Aksi kreatif inipun dibuka dengan sajian musik Hadroh dari pondok pesantren Al Munawir yang terlebih dahulu memutari Panggung Krapyak.
Karya Lepaskendali berjudul The Hunting Land yang bercerita tentang perburuan rusa. Ini merupakan tradisi berburu pada jaman dulu. Digambarkan pula tentang mitos-mitos buto atau raksasa penunggu hutan.
“Sedangkan saya bersama Dhanank Pambayun, dan Yennu Ariendra mengangkat karya berjudul Alas Ing Krapyak. Tentang perjalanan lintas waktu menyusuri sejarah hutan Krapyak tempat berburu menjangan para raja Mataram,” kata Donny.
Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Umar Priyono mengungkapkan alasan dipilihnya gedung DPRD DIJ dan Panggung Krapyak karena nilai historis dan artistiknya. Menurutnya JVMP FKY 27 dapat menampilkan keindahan teknologi yang berkolaborasi dengan kearifan lokal dan telah menjadi landmark Jogjakarta.
“Baru pertama kali Panggung Krapyak direspon dengan video mapping, sehingga penonton yang hadir bisa jadi saksi kolaborasi indah ini. Semoga ini tidak hanya menjadi sajian tontonan tapi juga sebuah tuntunan dengan hal yang baik,” harapnya. (dwi/ong)