Dari Kondektur sampai Anggota Dewan

Hidup penuh liku-liku memberikan pengalaman berharga bagi seseorang. Itu pula yang dirasakan oleh AKBP Anny Pujiastuti yang menjabat Kabid Humas Polda DIJ. Kisah hidupnya penuh tantangan dan mampu menginspirasi orang lain.
DI tinggal ayahnya saat usia kanak-kanak, mem-buat Anny Pujiastuti lebih dewasa ketimbang teman sebayanya. Meskipun penuh keterbatasan, hal itu tidak menghalangi niatnya untuk mencapai cita-cita menjadi polisi.”Ayah saya dulu brimob berpangkat aiptu. Beliau meninggal saat saya masih TK. Jadi mau tidak mau, saya dan saudara-saudara seperti harus dewasa sebelum waktunya,” kata Kabid Humas Polda DIJ AKBP Anny Pujiastuti kepada Radar Jogja belum lama ini.
Bunda Anny, begitu dia biasa disapa oleh para wartawan yang kerap meliput kegiatan di Mapolda DIJ, adalah anak keempat dari delapan bersaudara. Lahir di Ujung Pandang, 15 November 1958.Anny menceritakan, sepeninggal sang ayah kehidupan keluarganya dirasakan saat itu cukup berat. Bagaimana tidak, saat itu ibunya harus menghidupi delapan anak dengan pensiunan ayahnya yang hanya berpangkat aiptu.”Kakak tertua saat ayah me-ninggal baru lulus SMA, secara ekonomi kita me-mang kurang tapi tidak mematahkan semangat berjuang,” ujarnya.
Karena itu, sejak SD, SMP sampai SMA dia selalu ber-usaha bagaimana caranya biaya sekolah jangan sampai mem-beratkan orang tua, dalam hal ini ibu-nya. Saat SD, Bunda Anny, biasa membawa es lilin, kacang atom, permen, kue-kue dari tetangga untuk dijual. “Kalau istirahat saya jualan, nanti hasil keun-tungannya saya tabung. Begitu terus sampai saya lulus SMP,” ungkapnya.Setamat SMP, Anny melanjutkan ke Sekolah Guru Olahraga (SGO) di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Saat itu, untuk mencari uang tambahan, setiap akhir pekan sempat menjadi kondektur bus Patmo jurusan Cepu-Semarang.”Kondekturnya perempuan, Sabtu Minggu dia libur, saya yang menggantikan. Sehari bisa tiga kali pergi-pulang (PP). Alhamdulillah bisa buat kos, bayar uang sekolah dan beli buku. Orang tua dan teman-teman tidak tahu. Kalau ditanya kenapa tidak pulang, saya jawab banyak tugas sekolah,” tandasnya.
Begitu lulus SGO, Anny sempat kuliah di IKIP Semarang (sekarang Universitas Negeri Semarang) selama dua semester. Untuk mencukupi kebutuhan selama di Semarang, setiap malam dia menjadi penjaga karcis acara pameran Semarang Fair. Namun, hal itu hanya berlangsung dua semester. (riz/ila/ong)

Raih Cita-Cita Jadi Polwan

anny-press-rilis
PENUH SEMANGAT: AKBP Anny Pujiastuti saat menjalankan tugas dalam memfasilitasi release Ditresnarkoba beberapa waktu lalu.
SAAT berkuliah di Semarang, Bunda Anny, mengetahui ada penerimaan polwan. Kala itu, dia masih kuliah semester dua dan mem-bulatkan tekad untuk mendaftar.”Ada penerimaan polwan saya coba daftar. Harapan saya jika nanti lulus dari polwan, tidak berat beban orang tua untuk kuliah, setelah selesai polwan saya akan menerus-kan kuliah lagi,” kata perempuan yang selalu menjadi juara kelas itu.
Akhirnya, setelah menempuh pendidikan selama sembilan bulan di Ciputat, Jakarta dia akhirnya lulus menjadi anggota Polri. Dari sekitar 100 siswa, dia menempati peringkat dua terbaik. Posisi pertamanya selepas lulus di Jakarta pada tahun 1979 adalah menjadi Sespri Kapolda Metro Jaya yang waktu itu dijabat Anton Sujarwo, selanjutnya menjadi Kapolri ke-9 pada periode 1982-1986.Tiga tahun di Polda Metro Jaya, pada 1982 ditugaskan di bagian body check penumpang perempuan di Bandara Halim Perdanakusuma, Cengkareng.
Setahun dia bertugas di tempat itu. Selanjutnya di tahun 1983, dia diminta bertugas sebagai instruktur dan pembina polwan di Sekolah Polwan angkatan 6. Tak berselang lama, dia ditugaskan kembali ke Cengkareng.Setahun dari Halim Perdanakusuma, dia dipindah lagi ke Polres Jaktim sebagai Dirserse Narkoba. Sempat setahun lagi di Bandara Halim, Anny menikah pada 1985 dengan Sumarno yang berprofesi pegawai bank dan hijrah ke Kalimantan Selatan.Pada tahun 1987 Anny masuk Sekolah Calon Perwira (Secapa) dan kemudian ditugaskan di Barabai, ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.
Dia bertugas selama 4 tahun di tempat itu sebagai Kasat Binmas.Tahun 1989 turun surat perintah tes caleg anggota DPRD Hulu Sungai Tengah untuknya. Dia sempat ragu. Namun, setelah tes seminggu di Rindam Banjarmasin, dari 117 peserta tes, dia dinyatakan lulus untuk mewakili Fraksi TNI/Polri di DPRD Hulu Sungai Tengah.Kepercayaan menjadi anggota dewan di-embannya selama tiga periode. Setelah tidak lagi berpolitik, Anny kembali ke kesatuan dan pindah ke Jogjakarta mengikuti putra-putrinya yang melanjutkan studi. “Sebelumnya 2005 di Binmas. Tahun 2008 di bagian Humas Polda DIJ sampai sekarang. Terhitung sudah tujuh tahun,” tandasnya. (riz/ila/ong)

Gagalkan Upaya Penyelundupan Berlian

KETIKA bertugas di Bandara Halim Perdana-kusuma, Cengkareng, Jakarta di bagian body chek, Anny Pujiastuti pernah menorehkan prestasi membanggakan. Dia menggagalkan usaha penyelundupan berlian asal Singapura.Bunda Anny, sapaannya, menceritakan kala itu ada penumpang perempuan warga asing dari Singapura yang baru turun dari pesawat. Dia kemudian melewati pintu pemeriksaan X-Ray. Saat di pintu tersebut ternyata sirine berbunyi.”Dia kemudian kita periksa badannya. Perhiasan yang menempel diminta lepas semua. Ternyata masih bunyi juga. Kita lihat sepatunya platina, diminta dicopot masih bunyi juga padahal sudah dilepas semua,” katanya mengenang.
Anny akhirnya berinisiatif memasukkan penumpang itu ke kamar gelap, yang biasa di-gunakan untuk pemeriksaan. Bersama dengan temannya yang juga berjaga, penumpang itu diminta untuk membuka semua bajunya.”Dia bilang sedang menstruasi. Setelah pembalutnya dibuka tidak ada darahnya, katanya sedang jaga-jaga. Pembalutnya ter-nyata berat. Terus saya suruh teman satpam ambil cuter, setelah dibuka ada enam biji berlian sejagung-jagung, mukanya langsung pucat,” ceritanya.
Kepada Anny, perempuan itu kemudian minta dilepaskan, karena hanya tinggal dengan ibunya. Agar dapat dilepaskan, dia akan menyerahkan semua barang bukti berlian itu.”Akhirnya saya katakan, walaupun hanya tinggal berdua tapi masih ada Tuhan. Akhirnya saya minta pakai baju lagi, dengan diborgol dia dibawa ke Polres. Itu tahun 1983,” kenangnya.Saat perempuan itu disidang Anny menjadi jadi saksi kunci. Dia kemudian mendapat penghargaan dari Kapolda Metro Jaya karena prestasinya itu. (riz/ila/ong)