SETIAKY A.KUSUMA/RADAR JOGJA
JENIS BARU. Dirrnarkoba Polda DIJ Kombes Pol Andi Fairan saat merilis tujuh kasus narkoba hasil tangkapannya selama Agustus, kemarin (7/9).
SLEMAN – Wilayah sekitar Jogjakarta tampaknya masih saja menjadi pasar potensial narkoba. Meski peredarannya masih tergolong kecil-kecil, se-lama sebulan terakhir terakhir, Ditresnarkoba Polda DIJ ber hasil membongkar tujuh kasus pe nyalahgunaan narkoba
Dari ketujuh kasus tersebut, ada salah satu yang menjadi perhatian. Yakni pengungkapan kasus penggunaan zat yang mi-rip dengan ganja, namun belum terdaftar dalam list zat psiko-tropika di UU No 35 tahun 2009.Dirrnarkoba Polda DIJ Kombes Pol Andi Fairan mengatakan, ketujuh kasus tersebut terdiri dari satu kasus ganja dan enam kasus sabu-sabu dengan 12 orang tersangka. “Para tersangka, di-dominasi swasta 8 orang, ma-hasiawa dan pelajar 4 orang,” katanya saat jumpa pers di Ma-polda DIJ, Senin (7/9) kemarin.
Dari tujuh kasus tersebut, ba-rang bukti (BB) yang bisa di-amankan, antara lain ganja 0.14 gram, sabu-sabu 12,35 gram lengkap dengan alat untuk meng-gunakannya, ponsel, botol dan korek gas. “Dari pengungkapan kali ini, ada hal yang menonjol. Yakni adanya kasus pengung-kapan jenis zat psikotropika baru yang belum terdaftar di UU No 35 tahun 2009 tentang zat psikotropika,” tandasnya.
Pengungkapan terhadap barang yang diduga narkoba dan me-mabukkan tersebut, berlangsung Senin (24/8) lalu pukul 23.00 WIB, dengan TKP Krapyak Ku-lon RT 53, Panggungharjo, Sewon, Bantul. “Pengungkapan kasus ini berawal dari laporan ma-syarakat, yang menyebutkan di salah satu rumah di Sewon di-duga kerap digunakan sebagai tempat pesta sabu,” tuturnya.Dari penuturan warga, rumah tersebut selalu didatangi pemu-da secara hilir mudik. Setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut, petugas melakukan penang-kapan tersangka. “Dalam peng-geledahan, menemukan BB yang awalnya diduga ganja. Bentuknya seperti daun herbal dan setelah digeledah, kami melakukan penangkapan terhadap 4 orang di tempat itu,” terangnya.
Keempat tersangka tersebut: RA,16, AL, 18, KS, 20 dan TE, 21. Keempatnya adalah mahasiswa perguruan tinggi swasta di Bantul. Pelaku menggunakan barang bukti tersebut dengan dilinting seperti ganja. “Karena jenis dan memakainya sama awalnya diki-ra ganja. Lalu kami kembangkan, salah satu trsangka kita periksa. Dia katakan bahwa barang bukti yang diduga ganja ini dipesan melalui medsos dengan nama akun sendiri seharganya Rp 200 ribu pada tanggal 19 Agustus. Dengan ongkos kirim jadi Rp 230 ribu, tiga hari kemudian paket sampai di pemesan,” terangnya.
Oleh para pelaku, barang ter-sebut dikonsumsi pada 22 Agus-tus. Menurut para pelaku, barang tersebut membuat happy, de-presan ngefly sama seperti nar-koba jenis ganja. “Kemudian pada 24 Agustus, keempat ter-sangka kami tangkap, kami cek urin, hasilnya negatif. Selanjut-nya sampel barang tersebut dikirim ke Labfor Semarang untuk dicek,” paparnya.
Setelah diperiksa di Labfor Semarang, barang bukti yang dipesan dari Bandung itu juga negatif dalam daftar narkotika yang diuraikan dalam UU No 35 tahun 2009. “0,113 gram BB da-lam plastik klip yang diduga ganja, didapatkan hasil bahwa sampel yang diuji hasilnya ne-gatif. Tidak mengandung nar-kotika, tapi mengadung zat baicaline, atau disebut goodshit. Efeknya menurut pengkonsumsi memberi efek depresan (fly/melayang) dan tidak membuat ngantuk,” terangnya.
Karena tidak terdaftar dalam tabel narkotika, keempat pelaku tidak dapat diproses dan hanya dikenai wajib lapor. Selanjutnya, pihaknya akan berkoordinasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk menyikapi te muan tersebut. Termasuk juga me-minta masukan dari Kemente-rian Kesehatan RI.”Bisa kita sebut narkotika jenis baru, sama dengan ganja. Mem-berikan efek depresan tapi tidak membuat ngantuk. Dan mudah didapatkan di online. Karena itu para orang tua perlu hati-hati,” ungkapnya. (riz/jko/ong)