KULONPROGO – Munculnya cairan hitam pekat yang diduga aspal cair yang dikeluhkan nelayan langsung mendapatkan perhatian. Kantor Lingkungan Hidup (KLH) dan Dinas Ke lautan, Perikanan, dan Peternakan ( Kulonprogo langsung melaku-kan cek lokasi. Mereka juga mengambil sampel cairan hitam pekat yang diduga aspal curah di Pantai Congot, kemarin (9/9). Kasi Pengawasan dan Pengen-dalian Dampak Lingkungan KLH Kulonprogo Rin Dwari Widia stuti mengatakan, kedatangan me-reka untuk memastikan ke-benaran informasi yang di laporkan oleh nelayan
Menurutnya, sumber cairan yang diduga aspal curah itu perlu dicari kejelasannya. Sehingga sampai saat ini ia mengaku belum bisa banyak bicara terkait siapa yang harus bertanggung jawab. Namun, kemunculan cairan pekat hitam yang muncul itu bisa dijadikan indikasi bahwa temuan ini benar-benar harus menjadi perhatian serius dari pemerintah. “Bercak-bercak hitam di pasir itu harus dipastikan dulu aspal curah atau bukan. Perlu kajian lebih lanjut dan koordinasi dengan provinsi,” terangnya.
Terlebih, saat ini kewenangan laut saat ini berada di tangan pemerintah provinsi dan pusat. Itu sesuai dengan surat edaran yang merujuk pada UU No 23 Tahun 2014. “Dulu kabupaten pernah mendapat kewenangan sepertiga dari kewenangan pro-vinsi untuk mengurus laut, namun kembali diurus oleh provinsi,” tandasnya.
Rin mengimbau, para nelayan tetap aktif melapor atau meng-informasikan jika menemukan kemunculan cairan hitam pekat itu kembali. Sehingga kemun-culannya secara periodik bisa diamati secara lebih detail. “Kami juga berencana me-lakukan pemeriksaan kualitas air, sebagaimana tugas kami di KLH. Kita akan cari tahu seperti apa kualitas air di se-kitar penemuan cairan pekat ini, sebelum bicara dampaknya,” terangnya.
Menurutnya, pengambilan sampel air sebetulnya rutin dila-kukan setiap awal tahun. Namun kebetulan untuk tahun ini tidak di Pantai Congot. Hingga ke-mudian ada informasi pene-muan ini, pihaknya akan me-lakukan koordinasi dengan seksi yang menangani tentang pemeriksaan kualitas air.Kasi Perlindungan dan Kon-servasi Sumber Daya Laut Dinas Kelautan, Perikanan, dan Peternakan Kulonprogo Siti Khoiriyah menjelaskan, sampel akan diserahkan kepada petugas UPT Lokaserang dari Kemen-terian Kelautan Perikanan untuk dibawa ke Jakarta.
Sampel itu akan diteliti untuk memastikan kebenaran benar aspal curah atau bukan.”Informasi dari nelayan, dua tahun lalu juga muncul di Pantai Glagah. Kalau puncak musim kemarau memang ada kejadian seperti ini, akan kami kaji juga apakah ada kaitannya dengan alam,” jelasnya.Saat disiunggung apakah kemunculan cairan hitam pekat itu berpengaruh terhadap hasil tangkapan nelayan, Siti mene-gaskan, tetap harus menungu hasil kajian dan penelitian. Ter-lebih saat ini gelombang atau ombak besar tengah terjadi, dan selalu menjadi kendala bagi para nelayan saat melaut. “Kondisi itu juga diperkuat dengan imbauan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang sempat mengeluarkan peringatan om-bak besar. Yang pasti dengan kondisi itu secara otomatis ne-layan tidak memungkinkan untuk turun melaut,” tegasnya.
Salah satu nelayan Rahman Cipto Pranoto, 52, menuturkan, cairan hitam pekat tersebut cukup berpengaruh terhadap nelayan. Ia juga beralasan tidak melaut karena perahu mesin temple terkena cairan tersebut sehingga lebih memilih men-cari ikan dengan jaring eret di muara Sungai Bogowonto.”Tentu berdampak sekali ka-lau ada aspal seperti ini. Kalau ada seperti ini (aspal cair) ikan menyingkir, kan airnya ter-cemar,” ucap warga Pedukuhan Nglawang, Desa Jangkaran ini. (tom/ila/ong)