JOGJA – Pelambatan ekonomi saat ini ternyata juga berimbas pada tingkat konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) di DIJ. Ber-dasarkan data Pertamina DIJ, tingkat konsumsi BBM meng alami penurunan lima hingga sepuluh persen. Penurunan tingkat kon-sumsi terjadi di semua jenis BBM yang dijual Pertamina.Marketing Branch Manager Pertamina DIJ-Surakarta Freddy Anwar mengatakan, perlamba-tan ekonomi di kuartal kedua 2015 ini dampaknya sudah te-rasa pada penurunan konsum-si BBM di DIJ. Rata-rata turun dikisaran lima hingga sepuluh persen baik untuk premium, pertamax maupun solar. “Paling terasa pada konsumsi premium yang biasanya mencapai 1.500 kiloliter (KL) per hari men-jadi 1.400 sampai 1.450 KL per hari,” tutur Freddy, kemarin (9/9).
Selain itu, adanya BBM baru milik Pertamina, pertalite, juga menjadi salah satu penyebab menurunnya tingkat konsumsi premium. Sejak mulai diuji pa-sar, peminat Pertalite di DIJ terus tumbuh. “Adanya migrasi konsumen premium yang beralih meng-gunakan produk BBM baru per-talite, bisa jadi juga menjadi penyebabnya,” ungkap Freddy.Dijelaskan, untuk konsumsi per-tamax, yang pada 2014 lalu me-ngalami lonjakan hingga 300 per-sen atau 300 KL per hari, di tahun ini hanya berkisar 200 hingga 250 KL per hari. Konsumsi solar di DIJ juga turun drastis tahun ini, men-capai 350 KL per hari dibandingkan tahun lalu sebesar 400 hingga 500 KL per hari. Sedangkan untuk konsumsi pertalite sendiri cenderung naik karena mengambil konsumen premium hingga mencapai rata-rata 2,5 hingga tiga KL per hari.
Diakui Freddy, pada saat tertentu, seperti lebaran, kon-sumsi bisa naik pesat. “Kon-sumsi BBM di DIJ sekarang ini memang loyo seiring daya beli masyarakat,” paparnya.Freddy menambahkan, tahun ini sebenarnya sudah ada penambahan SPBU baru di DIJ. Namun penambahan SPBU tersebut bukan dimaksudkan untuk meningkatkan konsum-si BBM, tetapi lebih ke peme-rataan konsumsi. Pertamina, sebutnya, lebih mementingkan kepentingan masyarakat dan mendekatkan SPBU. Tercatat saat ini sudah ada 95 SPBU di DIJ yang beroperasional. “Meski SPBU sudah tambah, nyatanya konsumsi masih lebih rendah dibanding 2014 lalu,” jelasnya. (pra/ila/ong)