JOGJA – Kepastian pencairan dana hibah stimulan dan operasional senilai Rp 11,5 juta tak jelas. Sampai saat ini, RW di Kota Jogja masih belum menerina dana tersebut. Salah seorang Ketua RW Dipowinatan, Kecamatan Mergangsan, Wahyu Sugianto mengaku, belum menerima. Pihaknya belum mendapatkan informasi mengenai pencairan dana tersebut. “Padahal, dana tersebut sudah sangat dibutuhkan wilayah,” ujarnya, kemarin (10/9). Ia menuturkan, dana hibah stimulan tersebut rencananya digunakan untuk pembelian kain tenda. Karena dua tahun sebelumnya sudah dilakukan pembelian rangkanya. Sedangkan hibah operasional akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan harian. Seperti alat tulis, pembuatan stempel, serta bantuan makanan saat pertemuan atau rapat warga. “Dana ini sangat kami butuhkan. Pemberian dana hibah ini dilakukan sejak era kepemimpinan wali kota sebelumnya sehingga sudah seperti dana yang terprogram setiap tahun,” katanya. Pada tahun lalu, pencairan dana hibah untuk RW juga sempat mengalami kendala. Sehingga baru dilakukan menjelang akhir tutup tahun anggaran. “Tahun lalu dana cair pada Desember,” katanya. Ia menyebut, pencairan dana hibah dilakukan setelah RW menyerahkan proposal. Juga laporan penggunaan anggaran dua tahun sebelum pencairan yang dilakukan kolektif melalui kelurahan. Sementara itu, Kepala Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan (KPMP) Kota Jogja Lucy Irawati mengatakan, belum bisa mencairkan dana hibah untuk RW. Karena masih harus menunggu keputusan dari tim anggaran pemerintah daerah. Pencairan dana hibah terkendala edaran dari Kementerian Dalam Negeri yang menyatakan bahwa penerima harus memiliki badan hukum. “Pencairan dana hibah di Jogja masih harus melalui identifikasi terlebih dulu. Kami menunggu keputusan dari tim anggaran namun proses administrasi pencairan tetap jalan,” akunya. (eri/ila/ong)