GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
RESTORASI: Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir (kiri) dan Gubernur DIJ Sri Sultan HB X (dua dari kiri) memasang pathok batas zona inti kawasan gumuk pasir Parangtritis saat meresmikan Parangtritis Geomaritime Science Park, kemarin (11/9).
KRETEK – Restorasi area kon-servasi gumuk pasir resmi dimulai. Itu ditandai dengan pemasang-an pathok penanda di zona inti gumuk pasir oleh Gubernur DIJ Sri Sultan Hamengku Buwono X, kemarin (11/9).Hadir dalam acara ini Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti) M Nasir, Kepala Badan Informasi Geo-spasial Priyadi Kardono, Pejabat Bupati Bantul Sigit Sapto Rahardjo dan sejumlah pejabat pemerintah DIJ, dan pejabat Pemkab Bantul.Gubernur mengatakan, keber-adaan bangunan dan vegetasi di sekitar zona inti mengganggu arah angin dari arah selatan (laut). Dampaknya, tiupan angin yang membawa pasir ini terganggu dan tidak dapat membentuk barkhan atau gundukan baru di zona yang memiliki luas 141,1 hektare ini.
Melalui restorasi yang ber-konsekuensi pada penertiban bangunan dan vegetasi di sekitar zona inti ini diharapkan bisa muncul gundukan baru. “Yang penting di sekitar zona inti tidak ada bangunan yang dapat meng-ganggu arah angin. Itu saja,” ujarnya.Sultan HB X tidak memper-masalahkan keberadaan tambak udang di sekitar gumuk pasar. Sebab, keberadaan tambak udang tidak mengganggu arah angin dari laut.Dia menyatakan, restorasi gu-muk pasir saat ini belum memiliki payung hukum. Ke depan payung hukumnya berupa perda. “Semen-tara pergub dulu nggak apa-apa,” jelasnya serta menyatakan penyu-sunan perda membutuhkan waktu cukup lama.
Priyadi Kardono menyampaikan, penataan gumuk pasir tidak hanya melibatkan Badan Informasi Geospasial dan Pemerintah DIJ. Tetapi juga melibatkan Pemkab Bantul dan UGM. Saat ini, kondisi gumuk pasir sangat mempriha-tinkan. Sebab, salah satu warisan dunia itu hanya tinggal 30 persen. Jika restorasi tidak segera dilaku-kan tidak tertutup kemungkinan gumuk pasir akan rusak. “Nanti akan kami kondisikan agar gumuk pasir tetap hidup,” ungkapnya.Berdasarkan kajian Fakultas Geografi UGM, kawasan gumuk pasir akan terbagi dalam tiga zonasi. Pertama zona inti seluas 141,1 hektare. Kedua zona terbatas seluas 95,3 hektare. Terakhir zona penunjang seluas 111 hektare. “Yang kami pasang pathok sementara hanya di zona inti,” terang Kepala Parangtritis Geomaritime Science Park Retno Wulan.
Usai pemasangan pathok, Fakul-tas Geografi bersama Parangtritis Geomaritime Science Park akan melakukan kajian. Ini meliputi kajian biotik hingga kultural. Sebagaimana Priyadi, Retno juga mengeluhkan kondisi gumuk pasir. Gundukan pasir sudah tidak ada lagi karena angin laut yang mem-bawa pasir terhalang bangunan dan vegetasi.M. Nashir berharap restorasi gumuk pasir tak hanya fokus pada persoalan pasir. Lebih dari itu, kawasan gumuk pasir ini juga diharapkan menjadi kawasan sosio park. Sehingga keberada-annya lebih bermanfaat kepada masyarakat. (zam/din/ong)