AHMAD RIYADI /RADAR JOGJA
KREATIF:Dua mahasiswi D4 Kebidanan, Sekolah Vokasi UGM menunjukkan inovasinya berupa replika tulang panggul wanita berbahan kayu waru, kemarin (11/9).
SLEMAN – Inovasi di bidang kesehatan mampu diciptakan lima mahasiswa Ke-bidanan UGM. Mereka berhasil membuat replika tulang panggul wanita berbahan kayu waru. Inovasi ini boleh dibilang sangat baru, karena umumnya replika untuk keperluan pendidikan dokter, perawat, dan kebidanan berbahan baku resin. Lima peneliti yang berhasil menciptakan inovasi tersebut adalah Rani Nur, Iffah Hanim, Ayu Indah, Noor Rofi, dan Ummi Khairun Niswah. Mereka merupakan mahasiswa D4 Kebidanan, Sekolah Vokasi UGM.Rani menuturkan, dia bersama empat rekannya membuat replika tulang panggul wanita berbahan kayu untuk mempermudah belajar anatomi dan mekanisme persalinan bayi. “Kami sempat diskusi panjang, tapi akhirnya berhasil membuat alat peraga tu-lang panggul wanita dari bahan kayu waru,” ujarnya kemarin (11/9)
Alat peraga tersebut diberi nama Mithompel, yang me-rupakan kepanjangan dari Mini Phantom Pelvis. Alat tersebut dijual dengan harga yang relatif murah, hanya Rp 140 ribu. Untuk pembuatannya melibatkan perajin batik kayu Desa Wisata Krebet, Pajangan, dan Desa Palbapang, Bantul. Dengan bahan baku kayu waru, diklaim tidak mudah rusak dan gampang dibawa kemana pun pergi. “Alat peraga ini tidak mu-dah rusak, dan mudah dibawa kemana saja. Karena, ukurannya cukup mini dan hanya seberat 60 gram,” ungkap Rani.
Rani menerangkan, ide mem-buat alat peraga mithompel ini bermula dari keinginan mereka untuk mempermudah belajar anatomi tulang panggul wanita dan mengetahui mekanisme persalinan melalui alat peraga. Biasanya, saat belajar anatomi tulang panggul, mereka hanya bisa melihat langsung patung alat peraga yang tersedia di laboratorium atau mempe-lajarinya dalam buku bacaan. “Dengan mithompel, kami bisa bawa ke mana-mana, tinggal ditaruh di dalam tas,” tandas perempuan asal Garut, Jawa Barat ini.Kini, para inovator alat peraga ini kebanjiran order dari mahasiswa kedokteran, perawat, dan bidan. Jumlah pemesan mencapai ratusan orang. Tidak hanya mahasisawa UGM, pemesan juga datang dari universitas/sekolah kesehatan yang lain di Jogjakarta dan luar Jogja-karta. Untuk memenuhi pemesanan tersebut, mereka menggandeng lima perajin kayu. “Setiap hari satu perajin ber hasil membuat satu alat peraga,” jelas Iffah Hanim sambil menunjukkan alat peraga kreasinya.
Replika tersebut dinilai sangat bermanfaat bagi siswa dan ma-hasiswa yang ingin belajar tentang ilmu anatomi dan ilmu kebidanan. Apalagi, setiap produk mithom-pel dilengkapi dengan buku panduan yang menjelaskan de-tail nama-nama bagian tulang panggul dan dilengkapi dengan boneka bayi. Ia bersama teman-temannya bertekad ingin mengembangkan produk alat peraga tersebut. “Jika pemesan terus meningkat, kami akan melibatkan banyak pengrajin kayu,” terangnya. (mar/jko/ong)