JOGJA – Musim kemarau yang masih saja berlangsung hingga saat ini, mem-buat masyarakat yang berdomosili di daerah rawan kekeringan, panik. Mereka berlomba-lomba mengajukan proposal permintaan droping air ke Dinas Sosial DIJ. Hingga, kemarin (12/9) Dinsos DIJ sedikitnya mencatat ada 200-an proposal meminta dikirim air bersih
Itu belum lagi yang masuk ke Dinsos Kabupaten.Kepala Dinsos DIJ Untung Su-karyadi membenarkan, sampai saat ini sudah ada 200-an pro-posal yang masuk ke dinsos untuk minta droping air. ” Seperti ada kepanikan, sehingga saat ini banyak proposal yang sudah masuk di meja kami. Sedikitnya ada 200-an proposal,” kata Untung, kemarin (12/9). Dinsos tak mau gegabah dengan proposal-proposal tersebut. Se-belum merencanakan droping air, akan dilakukan pengecekan, karena ada yang mengajukan proposal, tetapi sudah menda-pat bantuan air dan ada daerah yang tidak bisa membuat pro-porsal tetapi benar-benar me-ngalami kekeringan dan belum mendapat bantuan air.
Alasan lain, bahwa kekeringan di wilayah DIJ ada beberapa ka-sus, yakni ada wilayah yang me-ngalami kekeringan setahun sekali, ada daerah yang menga-lami darurat kekeringan dan ada daerah yang tidak bisa hidup karena kekurangan air. “Karena itu, kami harus cermati betul setiap proposal yang masuk, bahkan kami harus melakukan pengecekan di lapangan,” ujarnya.Untuk pengecekan, Dinsos mengerahkan tim taruna siaga bencana (Tagana) dan karang taruna yang ada di kabupaten dan kota. Mereka diminta untuk mendata dan mengecek daerah yang mengalami kekeringan dan yang belum mendapatkan ban-tuan air. Hal itu untuk memas-tikan distribusi bantuan air bisa tepat sasaran.”Sebelum melakukan droping air, kami menerjunkan Tagana dulu. Kalau dari Tagana me-nyatakan bahwa daerah yang mengajukan proporsal sudah mendapat bantuan air, droping air ditangguhkan,” jelasnya.
Menurut Untung, dari Tagana terkadang menemukan daerah yang belum mengajukan proporsal, te-tapi belum mendapat bantuan air.”Untuk daerah seperti itu, kami minta untuk diintervensi dulu dengan droping air dan dimintai tanda terima saja, tanpa harus mengajukan pro-porsal,” ungkapnya. Lebih jauh, mantan Kepala Disnakertrans DIJ tersebut men-jelaskan, sampai saat ini Dinsos DIJ sudah mengirimkan sedikit-nya 500 tangki air dengan ang-garan dari APBD DIJ. Dan saat ini di Dinsos DIJ masih terdapat ratusan tangki air yang disiapkan dari APBN. “Kami juga berkoor-dinasi dengan kabupaten/kota, untuk penyaluran droping air,” tuturnya.
Koordinasi dengan kota dan kabupaten ini dianggap penting, sebab dalam penanga-nan kasus kekeringan ini, Pemprov DIJ sifatnya hanya melakukan back up, jika kabupaten dan kota sudah tidak mampu lagi melakukan droping air. Untung menambahkan, September ini, administrasi bantuan droping air dari APBD dan kondisi ling-kungannya harus clear. Sedang-kan untuk dropping air mulai Oktober, bisa menggunakan anggaran dari APBN.Pada bagian lain, Sekretaris Badan Penanggulangan Ben-cana Daerah (BPBD) DIJ Heru Suroso mengatakan, hingga saat ini proposal bantuan kekering-an yang diajukan tiga kabupaten di DIJ belum mendapat respons dari Badan Nasional Penang-gulangan Bencana (BNPB). Pada hal, sejak beberapa waktu lalu, Kabupaten Bantul, Gunung-kidul dan Kulonprogo sudah menyatakan darurat kekeringan dan meminta bantuan. “BNPB masih melakukan verifikasi, kami belum mendapatkan jawaban,” ungkapnya.
Heru menambahkan, hingga saat ini Kabupaten Sleman dan Kota Jogja belum menyatakan status darurat kekeringan. Me-nurut dia, hal itu menunjukkan bahwa Pemkab Sleman dan Pem-kot Jogja masih bisa me ngatasi kondisi dan merasa belum perlu minta bantuan ke pemerintah pusat. “Pak Gatot (Gatot Sapta-hadi Kepala BPBD DIJ) sebagai Plt Bupati Sleman sepertinya masih bisa menangani sendiri,” ujarnya. (pra/jko/ong)