SIAPA tidak suka bersepada? Anak-anak pun matanya akan langsung berbinar ketika tahu mendapatkan kado sepeda di hari ulang tahunnya. Tapi siapa yang pernah menjajal mountain bike atau MTB? Apalagi salah satu kelasnya yang ter-bilang ekstrem karena medannya, yakni downhill (DH).
Dialah Exa Rau-dina Khoiroti, satu diantara banyak perempuan muda yang menemukan jiwanya ada pada down-hill. Belum banyak perem-puan, apalagi usia remaja yang melirik atau terpanggil untuk menggeluti olahraga yang notabene didominasi oleh kaum adam ini.”Sudah passion disini, se-belumnya aku main bulutangkis, tapi bosan. Lagi pula juga masih jarang cewek yang mau main downhill,” ujar atlet DIJ ini kepada Radar Jogja di rumahnya, Sabtu (12/9).
Menurutnya, downhill ter-bilang olahraga ekstrem karena medannya yang curam dengan tingkat elevasi yang tinggi. Sehingga butuh teknik untuk bisa melintasinya dengan mulus. Sebagai hobi, olahraga kayuh yang satu ini sebetulnya bisa dijajal oleh siapapun. Tak heran jika kini banyak orang yang memasuk-kan downhill di daftar hobinya.Tak terkecuali bagi kaum hawa, karena yang terpenting adalah safety. Memakai sepeda, serta perlengkapan pengaman tubuh yang standar. Seperti helm, kacamata, pelindung bahu dan dada, pelindung siku, pelindung lutut, sarung tangan dan sepatu. Fungsi pengaman tubuh ini bukan semata sebagai pelengkap, tetapi sebagai pelindung untuk me minimalisasi terjadinya cedera. Bagi yang pertama kali ingin mencoba, atlet kelahiran Jog-jakarta, 22 Oktober 1994 ini mengingatkan untuk me ngenali lintasan terlebih dahulu atau yang biasa disebut walking track.”Kalau bisa walking track dulu, biar tahu medannya kaya apa. Baru naik sepeda, pelan dulu nggak papa,” ujar Exa yang menjadikan walking track sebagai aktivitas wajib sebelum tempur.
Peraih emas ASEAN MTB Cup Seri I 2015 di Filipina ini mengungkapkan, ekstrem atau tidaknya sebuah trek downhill tergantung pengamatan dan pengalaman bikers itu sendiri.Karena, setiap trek punya karakteristik berbeda dengan beragam obstacle di sepanjang lintasan yang membuat bikers harus betul-betul menguasai teknik. Jadi tidak hanya mengan-dalkan kecepatan saja. Menurut-nya, trek terekstrem yang pernah dijajalnya yakni trek downhill di Bukit Sulap Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Sedangkan trek downhill di Bukit Turgo, Sleman masih terbilang halus.Kalau hanya sekadar lecet, atlet yang sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti PON 2016 di Jawa Barat ini sudah biasa. Selain menempa fisik dengan latihan endurance, Exa juga harus berhati-hati dengan ligamen lututnya yang sudah cedera dan dislokasi bahu yang meng-hantuinya disetiap kejuaraan.”Buat yang mau coba yang penting safety dulu, tahu batas kemampuan dan jangan me-maksakan diri. Kalau mau lebih serius, jangan takut untuk men-coba,” ujar Exa. (dya/ila/ong)