TAEKWONDO merupakan olahraga bela diri asal Korea yang sudah mem-bumi di Indonesia. Olahraga yang mengandalkan gerakan kaki dan tangan ini tak hanya milik kaum lelaki. Seorang Lia Karina Mansur tergoda untuk men-jajal olahraga ini. Bahkan Lia, sapaan-nya, menekuni seni bela diri ini sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Terlahir dari keluarga pecinta olah-raga membuat Lia mewarisi darah ini. Sebelum menggeluti Taekwondo, dara kelahiran Jogjakarta, 2 Juli 1991 ini sempat menjajal olahraga lain. Namun kemantapan hati membuatnya bertahan di olahraga keras ini.”Dari keluarga, khususnya bapak, mewajibkan anaknya menyukai olah-raga. Memilih taekwondo awalnya untuk bekal jaga diri. Tapi terus berlanjut hingga sekarang dan mengikuti beragam kejuaraan,” katanya saat ditemui di kediamannya daerah Wirosaban, Jogjakarta, Sabtu (12/9).
Bagi Lia, belajar bela diri sangatlah penting bagi siapapun. Menjaga kebugaran tubuh sekaligus bekal jaga diri. Meski begitu, belajar bela diri, menurutnya, juga dibarengi dengan sebuah tanggung jawab. Sebuah komitmen untuk menggunakan ilmu bela diri secara bijak.Hal ini pula yang ditanamkan oleh sang bapak Dr H Mansur, MS. Sebagai orang yang menguasai taekwondo tentunya perlu kontrol diri. Ilmu ini tidak bisa digunakan secara se mena-mena. Lia pun memilih untuk menghindari masalah, dan meng-gunakan ilmu bela dirinya bila dirasa perlu saja.”Bapak selalu berpesan agar selalu lebih hati-hati untuk menggunakan ilmunya. Pakai hanya untuk di lapangan, saat ada pertandingan saja. Sampai sekarang alhamdulillah tidak ada yang berani gangguin,” ungkap mahasiswi Pascasarjana Fakultas Ilmu Ke-olahragaan UNY ini.
Untuk meraih beberapa gelar, Lia harus berjibaku dengan sangat keras. Sehari dia bisa berlatih hingga tiga kali, mulai pagi, siang dan malam. Pengalaman pahit juga pernah menghampiri ketika akan mengikuti Pra Pon 2012. Tiga hari sebelum berangkat, Lia justru mengalami patah sendi telapak kaki kiri.Alhasil, anak kedua dari tiga ber-saudara ini harus beristirahat total. Bahkan dokter yang memeriksanya pada waktu itu memvonis karir taekwondo-nya telah tamat. “Sebab ligamen yang menghubungkan kedua tulang telah putus,” ungkap Wakil 1 Diajeng Kota Jogja 2015.
Lia mengaku sempat mengalami drop pada waktu itu. Apalagi kejadian ini dialaminya tiga hari sebelum ke-berangkatan Pra Pon 2012. Tak mau larut dalam kesedihan, Lia menjalani beragam terapi. Total selama tujuh bulan, diaberobat hingga akhirnya dapat sembuh total. “Awal-nya sempat sangat drop sekali, apalagi baru mengikuti Sea Games 2011. Alhasil, absen Pra Pon 2012 dulu dan digantikan atlet lain-nya. Istirahat dan fokus untuk me ngejar PON XVIII. Alhamdulillah waktu itu dapat mendali emas,” kenang pemegang sabuk hitam ini.
Pengalaman ini tentunya membekas di benak Lia. Meski divonis pensiun dini namun Lia tidak menyerah begitu saja. Hingga saat ini kurang lebih Lia telah menjalani tujuh operasi pe-masangan pen penyangga tulang. Tidak hanya di kaki, tapi juga be berapa bagian tubuh lainnya.
Lia sadar telah memilih olahraga yang ekstrem, berbagai risiko tentu menghadang di depannya. Meski begitu kecintaan mendalam terhadap tae-kwondo membuatnya terus meng-geluti seni beladiri ini (dwi/ila/ong)