SETIAKY A.KUSUMA/RADAR JOGJA
PEDULI BINATANG: Aktivis Animal Friends Jogja (AFJ) saat melakukan aksi di seputaran Tugu Jogja, Jalan Mangkubumi atau Margomulyo, Sabtu (12/9) kemarin.
JOGJA – Belasan aktivis dari Animal Friends Jogja (AFJ) me-lakukan aksi di seputaran Tugu Jogja, Jalan Mangkubumi atau Margomulyo, Sabtu (12/9) ke-marin. Aksi tersebut sebagai wujud keprihatinan mereka terhadap pentas lumba-lumba keliling yang ada di Kabupaten Bantul. Dengan membawa spanduk bernada penolakan dan aksi teatrikal, mereka meminta ke-pada pemerintah untuk meng-hapus adanya pentas lumba-lumba yang menurut mereka sarat dengan eksploitasi.Manajer AFJ Angelina Pane mengatakan, dalam pertunjuk-kan lumba-lumba keliling ter-sebut, tidak ada nilai edukasi dan konserfasi. Bahkan lebih pada eksploitasi hewan langka dilindungi tersebut. “Lumba-lumba yang dieks-ploitasi oleh sirkus, kebanyakan berumur pendek, karena men-galami stres yang diderita. Dan itu berujung pada penangkapan kembali secara terus menerus di alam dan itu ilegal. Kami juga mempertanyakan Balai Konser-vasi Sumber Daya Alam (BKSDA), apakah syarat packaging dipenuhi dalam pentas keliling,” katanya kepada wartawan.
Karena itu, pihaknya menuntut kepada pemerintah agar menin-jau kembali pedoman peragaan lumba-lumba yang dikeluarkan Peraturan Dirjen PHKA No P.16/IV/-SET/2014 tentang Pedoman Peragaan Lumba-Lumba. Menurutnya, peraturan yang dikelurkan September 2014 itu, isinya sama sekali tidak men-cerminkan sebagai edukasi dan konservasi, dan lebih pada ben-tuk eksploitasi. “Kami sinyalir dalam terbitnya aturan itu ada pesanan dari mafia sirkus lum-ba-lumba,” terangnya.Pihaknya juga meminta agar pentas keliling lumba-lumba di Indonesia ditiadakan, karena menurutnya Indoensia negara satu-satunya yang masih meng-izinkan sirkus keliling lumba-lumba. “Di negara lain sudah tidak ada. Aturan peragaan sirkus tersebut isinya juga tidak ada dasar ilmi-ah sama sekali,” tandasnya. Dalam aksi tersebut, dua orang perempuan melakukan aksi teatri kal yang menggambarkan bagaimana lumba-lumba yang dikekang dan tersiksa selama pertunjukkan. (riz/jko/ong)