TINGGAL KENANGAN: Andra Tris Adi Siswanto (menantu) menunjukkan foto kenangan korban Sriyono Warjo Sihono saat berfoto bersama keluarga.
Duka mendalam terlihat di kediaman Sriyana Warjo Sihono,48, warga Dusun Rewulu Kulon, Sidokarto, Godean, Sleman Senin (14/9) kemarin. Bapak tiga anak itu termasuk dalam daftar jamaah haji Indonesia yang menjadi korban jatuhnya crane di Masjidil Haram, Makkah, Jumat (11/9) pukul 17.30 waktu setempat.
YOGI ISTI PUJIAJI, Sleman
ISAK tangis mewarnai keluarga Sriyono,48, panggilan akrabnya, warga Dusun Rewulu Kulon, Sidokarto, Godean, Sleman. Meski mengaku ikhlas, keluarga korban masih tampak terpukul meski belum mendapat kabar resmi dari otoritas haji Indonesia di Arab Saudi atas musibah yang menimpa ayah tiga anak itu.Sriyono tercatat sebagai jamaah haji kloter 27 embarkasi Solo yang berangkat pada 30 Agustus. Saat musibah terjadi, Sriyono se-dang menjalankan salah satu ritual ibadah haji. Koordinator kloter haji dari Sleman sempat kehilangan kontak dengan Sriyono usai musibah tersebut. Dengan hati cemas, keluarga menunggu kabar guru SMKN 2 Depok itu. Sebab, selama tiga hari mengikuti berita musibah crane di televisi, keluarga tak menemui nama Sriyono sebagai korban. Baru pada pemberitaan kemarin pagi(14/9), nama Sriyono muncul
Sriyono dikabarkan menjadi salah satu korban meninggal dunia setelah keberadaannya tak diketahui selama tiga hari (baca juga berita lain halaman ini). Bahkan, Sriyono tak pernah kembali ke pemondokan. Menda-pat kabar tersebut, pihak ke luarga segera menghubungi koordina-tor kloter haji di Arab Saudi, untuk memastikan informasi televisi. Dan ternyata kabar ter-sebut benar adanya.Isak tangis istri dan anak-anak Sriyono tak terbendung usai men-dengar informasi tersebut. Sri-yono yang sedang beribadah di rumah Allah pun tak akan pernah kembali. “Semula kami berharap bapak selamat karena namanya tak tercantum dalam daftar kor-ban,” ungkap Andra Tris Adi Sis-wanto, menantu korban kemarin.Kini, hanya satu harapan ke-luarga Sriyono. Bisa membawa pulang jenasah korban untuk dimakamkan di dekat keluarga. Namun, adanya aturan dari pe-merintah Arab Saudi, keluarga hanya bisa pasrah dan mengik-hlaskan jenasah Sriyono dima-kamkan di tanah suci.Sriyono mendaftar sebagai ca-lon haji sejak 2000. Tanpa di-dampingi istrinya, Suryatiningsih.
Setelah menunggu 15 tahun, sosok guru yang agamis itu, akhir-nya bisa menginjakkan kakinya di tanah suci. Meski takdir ber-kata lain, Sriyono tak bisa lagi menginjakkan kaki di kampung halamannya. Dia meninggalkan istri dan tiga putrinya, Khusnul Latifah, 21, Alfiah Nur Hidayah, 17, dan Zakia Nur Afifah, 10. Oleh anggota keluarga, kolega dan siswa-siswinya, semasa hidup-nya, Sriyono dieknal sebagai sosok panutan. Dia juga sering mengisi ceramah di sekitar rumahnya.Kontak terakhir keluarga dengan Sriyono pada Jumat sore (11/9) waktu Indonesia atau usai salat Jumat waktu Arab Saudi. “Kami tak bisa berbuat apa-apa ke-cuali mengikhlaskannya dima-kamkan di Makkah,” ungkap Muh Fauzan, kakak sepupu Sriyono.Ketabahan Suryatiningsih dan dua putrinya tak seperti Khusnul Latifah. Putri bungsu Sriyono itu beberapa kali pingsan dan menangis histeris setiap kali terkenang ayahnya. Tubuh Khus-nul tampak lemah dengan sisa lelehan tangis masih tampak di pipinya manakala sanak sau-dara hadir bertakziah.Suryatiningsih pun tak mampu membendung tangis dari matanya.
Meski begitu, perempuan paro baya itu tampak lebih tegar saat menemui para tamu takziah. Uca-pan belasungkawa tak hanya datang dari tetangga kampung. Sejumlah guru, karyawan, dan siswa SMKN 2 Depok tampak hadir. Kepala Kemenag Sleman Mu-hammad Lutfi Hamid menutur-kan, kecurigaan Sriyono men-jadi korban tragedi crane ber-mula saat koordinator kloter haji tak mendapatinya di pe-mondokan. “Saya minta koor-dinator kloter mendata anggota masing-masing. Saat diketahui ada satu tak ada di pemondokan, tim berupaya mencarinya di rumah-rumah sakit. Itu pun tak langsung ketemu,” katanya saat di rumah duka.Regulasi di Arab Saudi memang terkenal sangat ketat. Karena itulah, tim haji Sleman baru mendapat informasi kebera-daan Sriyono pada Minggu ma-lam (13/9). Informasi itu pun, korban telah meninggal dunia. Sebelum meninggal, Sriyono sempat dirawat di Rumah Sakit An Nur, Makkah.Lutfi mengaku belum tahu pasti penyebab meninggalnya Sriyono. Apakah murni akibat tertimpa reruntuhan crane. Atau akibat kepanikan yang terjadi usai insiden. “Menurut kabar, banyak juga korban meninggal akibat kepanikan,” lanjutnya.(jko/ong)