MUNGKID – Sejumlah tenaga kerja PT Dasar Karya Utama (PT Dayatama) Tempuran mengeluhkan adanya potongan gaji yang diberlakukan perusahaan. Pekerja merasa dirugikan. Karena pemotongan gaji dilakukan dengan cara sepihak.
Data yang diperoleh koran ini menyebutkan, setiap pekerja gajinya dipotong dengan nilai bervariasi. Dari Rp 25 ribu hingga Rp 75 ribu. Pemotongan upah sudah terjadi beberapa kali. Salah satunya saat 13 September 2015, akibat pekerja di bagian laminating board menghentikan pekerjaan sekitar pukul 15.05. Akibatnya, pekerja terkena denda, lantaran seharusnya jam kerjanya sampai pukul 15.10.
Jam kerja di perusahaan tersebut selama tujuh jam per hari dengan upah Rp 50.200 per orang per hari kerja. Jika dikalkulasi, upah per menit sekitar Rp 125 per orang. Maka, pemotongan upah sebesar Rp 25 ribu sampai Rp 75 ribu per orang, dianggap tidak manusiawi.
“Permintaan perusahaan, boleh beristirahat kalau bel sudah dibunyikan. Kalau berhenti lebih awal, upahnya dipotong separo,” ucap salah seorang pekerja yang namanya enggan dikoran, kemarin (15/10).
Pemotongan gaji ini diterapkan tidak hanya satu pekerja. Namun, beberapa pekerja lain dan di bagian lainnya. Kondisi ini diakui Waliyadi, 44, salah satu pengurus serikat pekerja (SP) di perusahaan tersebut. Selain gajinya dipotong, ia juga mendapat informasi, adanya pekerja yang membolos satu hari dan diskors selama seminggu. Ada juga pekerja terlambat masuk beberapa menit dan disuruh pulang. Atas kejadian tersebut, pengurus serikat pekerja (SP) berencana menyelesaikan secara kekeluargaan.
“Kami dukung yang salah dikenakan sanksi. Tetapi jangan seperti itu. Upah Rp 125 per menit, ketika melanggar lima menit kok dendanya sebesar itu,” protesnya.
Ia mengaku, tidak akan membela atau membenarkan pekerja yang salah. Di sisi lain, saat tahu ada pemotongan cukup besar, ia merasa kasihan atas nasib pekerja.
“Ini sudah perampasan, bukan potongan,” kritiknya.
Kepala Bagian Umum dan Ketenagakerjaan PT Dayatama Yoyok Subagiyo mengakui, ada potongan yang diberlakukan perusahaan. Potongan diterapkan sudah sesuai aturan yang berlaku. Ini merupakan upaya memberikan efek jera terhadap tenaga kerja yang bekerja tidak sesuai aturan.
“Pemotongan sudah sesuai aturan yang berlaku. Mereka protes juga tidak apa-apa,” kata Yoyok.
PT Dayatama yang memproduksi pengolahan kayu ini memiliki 500 tenaga kerja. Hasil olahan kayu di ekspor ke Jepang dengan pengiriman 6 – 8 kontainer per bulan. Dari keseluruhan, ada 27 persen tenaga kerja sering melakukan kesalahan, baik kecil maupun besar. Kesalahan yang dilakukan, di antaranya, titip absen ke tenaga kerja lain, terlambat masuk kerja. Bahkan, ada yang mencoba membohongi perusahaan dengan alasan agar bisa izin tidak kerja.
“Masalah absen, mereka juga bermasalah, ada yang dititipkan. Sudah saya tegur, tetapi tetap saja dilakukan. Akhirnya, soal absen ini sengaja di potong Rp 10 ribu. Ini untuk memberikan efek jera. Dananya dialokasikan untuk CSR,” jelasnya.
Yoyok mengatakan, pascapemotongan, perusahaan akan musyawarah ulangdengan para tenaga kerja. Mereka diajak memikirkan kembali solusi yang terbaik.
“Soal solusinya apa, nanti tergantung musyawarah. Yang penting, pekerja jangan melanggar aturan,” pintanya.(ady/hes/ong)