GUNAWAN/RADAR JOGJA
KRISIS: Warga Desa Ngestirejo, Tanjungsari antre mengambil bantuan air dari pihak swasta akhir pekan lalu. Selama musim kemarau ini, warga kesulitan mendapatkan air bersih.
GUNUNGKIDUL -Dampak buruk bencana tahunan kekeringan semakin membuat warga pusing tujuh keliling. Karena bantuan dari pemerintah terbatas, penduduk terpaksa menjual harta benda yang dimiliki untuk ditukar dengan air.
Desa yang paling parah mengalami kekeringan yakni di Desa Ngestirejo, Tanjungsari. Hujan yang menghilang sejak pertengahan bulan Mei lalu, membuat ratusan penduduk dengan profesi petani menjual hasil pertanian dan hewan ternak untuk membeli air.
“Saya sudah membeli lima tangki air selama kemarau ini. Uangnya dari hasil penjualan gaplek dan kambing,” kata salah seorang warga Pedukuhan Gatak 1 Martini akhir pekan kemarin.
Harga satu tangki air kapasitas 5.000 liter mencapai Rp 110 ribu. Satu tangki tersebut bisa bertahan untuk waktu satu bulan. Namun demikian, bagi warga dengan jumlah jiwa lebih banyak dimungkinkan kebutuhan lebih dari satu tangki. “Untuk keluarga lain mungkin satu tangki hanya bisa bertahan dua sampai tiga minggu,” terangnya.
Kesulitan serupa juga dialami warga lain, Sugirah. Menurutnya, selama ini bersama dengan penduduk lain hanya mengandalkan air hujan dan bantuan dari pemerintah dan swasta. Sebab, kondisi geografis tidak memungkinkan dibangun jaringan instalasi air. “Wilayah kami jauh dari sumber air,” ucapnya.
Dikatakan, bantuan dari pemerintah melalui dinas social, tenaga kerja, dan transmigrasi (dinsosnakertrans) belum bisa mencukupi kebutuhan masyarakat. Karena itu, tidak ada cara lain, harta benda yang dimiliki dijual. “Kalau bantuan dari pemerintah hanya mendapatkan empat jeriken, karena satu tangki dibagikan kepada puluhan warga,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinsosnakertrans Gunungkidul Dwi Warna Widinugraha mengaku telah menyalurkan ribuan tangki ke seluruh wilayah kecamatan. Anggaran yang telah dikucurkan untuk droping air sekitar Rp 500 juta.
“Seluruh wilayah sudah terdampak kekeringan. Untuk itu, kami mendorong pihak swasta untuk ikut memberi bantuan,” kata Dwi Warna.
Di bagian lain, untuk meringankan beban masyarakat JNE Jogjakarta memberikan bantuan air sebanyak 140 tangki kepada masyarakat Kecamatan Tanjungsari dan Panggang.(gun/ila/ong)