DWI AGUS/RADAR JOGJA
LAYANGAN: Warga Kotagede berusaha menerbangkan layang-layang di Lapangan Karang. Event ini merupakan rangkaian Festival Budaya Kotagede (FBK) 2015.
JOGJA – Puluhan layang-layang mengudara dan menghiasi langit Kotagede, Minggu sore (18/10). Selain anak-anak, orang dewasa juga turut menerbangkan layang-layang dengan berukuran besar. Event yang berlangsung di Lapangan Karang Kotagede ini merupakan bagian rangkaian Festival Budaya Kotagede (FBK) 2015.
Panitia FBK 2015 Priyo Mustiko mengungkapkan, layang-layang merupakan salah satu tradisi Kotagede. Bahkan pada zaman dulu, Kotagede memiliki layang-layang khas yaitu Sendaren. Layang-layang ini berukuran besar dan mengeluarkan suara saat sudah mengudara.
“Layang-layang ini dulunya sangat terkenal karena khas Kotagede. Tapi sekarang memang jarang yang memainkannya. Nah, dengan adanya kegiatan ini berharap segala tradisi Kotagede dapat terangkat, termasuk layang-layang,” kata Priyo.
Priyo menambahkan, festival ini turut melahirkan keguyuban. Sebab, untuk menerbangkan sebuah layang-layang raksasa tidak bisa dilakukan secara individu. Ini terlihat dari tim-tim yang berusaha keras menerbangkan layang-layang.
Kegiatan ini, lanjutnya, juga melahirkan kreativitas warga. Karena setiap layang-layang dibuat secara mandiri. Sehingga setiap layang-layang yang terbang memiliki desain yang berbeda. Mulai dari rangka hingga hiasan memiliki corak yang berbeda-beda.
“Penggemar dari anak-anak hingga dewasa menampilkan kreativitas masing-masing. Animo luar biasa. Juga menumbuhkan solidaritas dengan bekerja sama. Semoga tahun depan tetap ada dan lebih meriah,” harapnya.
Penanggungjawab festival layang-layang Deri Ardian Prabowo mengungkapkan, ada 35 peserta dalam kegiatan ini. Seluruh peserta lomba ini merupakan warga Kotagede. Ini sesuai dengan konsep FBK 2015 yang mengangkat kearifan lokal.
Selain menjadi ajang guyub, festival ini juga dilombakan. Penilaian untuk menjadi juara di antaranya layang-layang harus bisa terbang. Selanjutnya, dinilai dari segi kreativitas dan kesulitan dalam membuat.
“Syarat mutlak memang harus bisa terbang. Karena kalau dari sisi kreativitas dan rumitnya bagus tapi tidak bisa terbang ya tidak dinilai. Dari sini kita bisa melihat kalau layang-layang itu tidak hanya identik dengan anak-anak. Bahkan orang dewasa juga terlibat dalam festival ini,” kata Deri. (dwi/ila/ong)