RIZAL SN/RADAR JOGJA
AKTIF: Setiap hari Supri Sepatu Roda selalu berkeliling kota dengan menggunakan inline skate. Supri saat menunjukkan kebolehannya bersepatu roda.

Isi Waktu saat Pensiun, Tiga Jam Tempuh Jogja-Klaten

Umur boleh tak lagi muda, namun semangatnya tak kalah dengan para remaja. Bahkan bisa jadi lebih dari anak-anak muda. Itulah yang terpancarkan dari sosok Supriyanto, 62, atau Al Amin Supri alias Supri Sepatu Roda.
RIZAL SN, Sleman
BERAWAL dari kebingungan menjalani aktivitas menjelang pensiun, Supri saat itu sering melihat kerabatnya yang bermain sepatu roda jenis inline skate. Karena berkali-kali diajak untuk melihat latihannya, lama kelamaan pensiunan operator pintu kereta api itu tertarik untuk mencoba.
Namun, karena melihat usianya yang sudah dinilai tua, kerabatnya yang tinggal di rumahnya itu sempat melarangnya. Meski begitu, keinginan Supri untuk belajar sepatu roda tinggi. Dia bahkan tidak menghiraukan larangan itu, dan terus berlatih.
“Waktu itu, kerabat saya lagi nglatih, sepatunya ditinggal di kamarnya. Saya ambil saja, saya pakai terus mencoba sendiri,” katanya saat ditemui Radar Jogja di rumahnya di Dusun Gamping Lor RT 8 RW 13, Gamping, Sleman, Sabtu (17/10) kemarin.
Lama kelamaan, Supri ketahuan juga. Tetapi, bukan larangan lagi yang didapat. Supri justru diajari cara bersepatu roda dengan benar. Hingga akhirnya dia ikut berlatih di klub Racing Club Jetis. “Dulu latihannya di UGM, tapi ndak lama karena dilarang terus pindah ke parkir RSAU Hardjolukito,” katanya.
Supri mulai belajar sepatu roda jenis inline skate sekitar tahun 2008 lalu. Beberapa kali dia bergabung dan ikut klub-klub sepatu roda. “Latihannya sama anak-anak kecil SD itu. Dilihat dari belakang, kalau salah disemprit. Setelah bisa sendiri, dilepas,” katanya.
Beberapa kali ikut latihan, ia kemudian diberi tahu oleh pelatihnya. Karena usianya yang sudah sepuh, ia tidak bisa mengikuti event klub. Namun sebagai gantinya dia diajari sepatu roda jenis ekstrem jalan raya.
“Karena untuk simbah tidak ada kelasnya, makanya diajari yang kelas ekstrem jalan raya. Jadinya nyoba di jembatan layang Lempuyangan, Janti, dan yang terbaru Jombor. Saya sudah coba semua,” ungkapnya.
Awalnya, saat ia sering keluar untuk berolahraga sepatu roda banyak yang mencibirnya. Dikatakan, karena sudah tua bukan zamannya lagi main sepatu roda. “Tapi lama-lama polisi juga salut. Karena kalau lampu merah berhenti. Tidak melanggar lalu lintas. Polwan juga sering yang minta foto,” ujarnya.
Supri mengisahkan, saking senangnya dapat bermain sepatu roda, ia beberapa kali mencoba menempuh rute panjang, yakni Jalan Wates menuju Sedayu, lanjut ke Selarong di Bantul. Rute terjauhnya sampai ke Kabupaten Klaten dalam waktu tiga jam.
Kini hampir setiap hari, dia keluar menelusuri jalan-jalan Jogjakarta untuk mengisi waktu luangnya selepas pensiun pada 2010 lalu. “Pusing saya kalau di rumah terus. Makanya pagi keluar main sepatu roda, siang baru pulang,” ungkap bapak empat anak ini.
Supri lahir pada tahun 1953 di Bantul. Ia sempat menamatkan sekolah SR dan SMP namun tidak menyelesaikan sekolahnya di STM. Ia pernah bekerja sebagai pekerja di Stasiun Kereta Api Sentolo sejak tahun 1974.
“Karena saat itu kekurangan karyawan untuk operator pintu perlintasan, saya tahun 1980an dikursuskan dan jadi operator kereta sampai pensiun,” tuturnya.
Selama menjadi operator sinyal, ia selalu disiplin. Ia mengaku beruntung, sebab hanya berbekal ijazah SD ia bisa melakukan pekerjaan yang umumnya diberikan untuk lulusan SMA itu. “Berhati-hati dan disiplin, sampai pensiun tidak pernah ada kasus,” ujar kakek satu cucu ini.
Kenapa memilih sepatu roda dibanding olahraga lain, Supri mengungkapkan sebab olahraga itu lebih mudah apabila dibandingkan voli, badminton, sepakbola atau olahraga lain. Itu karena ia punya bekal menari.
“Saya dulu waktu kecil sudah biasa menari sejak SD. Jadi lebih mudah waktu mau belajar sepatu roda, gerakannya hampir seperti orang menari,” katanya.
Baginya, tidak ada yang sulit dari belajar sepatu roda. Tinggal ketekunan dan ketelatenan dalam berlatih. Selain itu, semuanya juga ada tekniknya. Misal saat di tanjakan atau turunan harus seperti apa. Semua ada tekniknya sendiri.
“Tapi saya diajari, kalau jatuh tidak usah mencoba menahan, malah bahaya. Kalau jatuh ya biarkan saja jatuh. Terus bangun sendiri, jangan menunggu dibantu orang lain,” bebernya.
Meskipun telah berkeliling sampai berpuluh-puluh kilometer, Supri masih memendam cita-cita yang belum kesampaian. Yakni berangkat ke Jakarta dengan bersepatu roda. Ia mengaku ingin sekali bertemu dengan Megawati di Jakarta.
“Saya ingin sekali ke Jakarta pakai sepatu roda tapi memang berat. Kalau kemana-mana saya usahakan pakai sepatu roda, bahkan mau ambil uang pensiunan di bank juga pakai sepatu roda,” ungkapnya. (ila/ong)