GUNTUR AGA TIRTANA/ RADAR JOGJA
JOGJA – Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang selalu dilakukan setiap Selasa Kliwon di bulan Sura, kali ini jamasan (Memandikan) dua buah kereta pusaka milik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yaitu Kanjeng Nyai Ageng Jimat dan Kyai Wimonoputro digelar Jumat Kliwon (23/10).
Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat,Penewu Ronodorodo mengungkapkan, biasanya jamasan kereta pusaka keraton memang digelar setiap bulan Sura pada Selasa Kliwon. Namun karena pada Sura kali ini tidak ada Selasa Kliwon, diputuskan prosesi dilaksanakan pada Jumat Kliwon kemarin.
“Setiap jamasan hanya dua kereta, intinya Kanjeng Nyai Ageng Jimat dan kereta penderek atau pendamping. Kereta ini sebelumnya digunakan sebagai kendaraan raja-raja Mataram. Namun sekarang disimpan di museum,” katanya saat ditemui wartawan, kemarin.
Dalam upacara jamasan, Kanjeng Nyai Ageng Jimat dibersihkan menggunakan air dan jeruk nipis. Hal itu selain membersihkan dari berbagai kotoran dan debu, juga untuk menghilangkan karat. Sebab kereta yang digunakan sejak Sri Sultan Hamengku Buwono I ini terbuat dari kayu dan kuningan. “Tidak ada kekhususan, hanya air biasa dan hasil perasan jeruk nipis. Itu digunakan agar karat yang menempel dapat dibersihkan,” terangnya.
Penewu Ronodorodo menyebutkan, Kereta Kanjeng Nyai Ageng Jimat sudah berumur ratusan tahun. Kereta Kanjeng Nyai Jimat digunakan semasa Sultan HB I memerintah Kesultanan Yogyakarta pada kurun waktu tahun 1755-1792, sampai dengan Sultan Hamengku Buwono V yang memerintah sampai dengan 5 Juni 1855. “Kondisinya masih bagus dan masih bisa digunakan. Sekarang disimpan di museum, tapi kalau sewaktu-waktu diperlukan masih mampu untuk berjalan,” terangnya.
Selain para abdi dalem, ratusan warga masyarakat baik dari Jogjakarta maupun dari luar kota, ikut menyaksikan prosesi jamasan kereta pusaka tersebut. Mereka sengaja datang untuk berebut air sisa jamasan dua kereta pusaka Keraton Jogjakarta itu. Mereka meyakini, air sisa jamasan dipercaya dapat membawa berkah.
Terbukti, sejak pagi warga masyarakat mulai berdatangan ke Museum Kereta Keraton di jalan Rotowijayan Kota Jogja. Bahkan, di antara mereka banyak yang datang dengan membawa botol air mineral kosong, ada pula yang sengaja membawa jerigen.
Ketika para abdi dalem mulai melakukan prosesi jamasan, warga mulai berebut untuk mendekat. Mereka sangat berharap mendapatkan air bekas sisa jamasan.
Salah satu di antara yang ikut berebut itu adalah Tarjem, 54. Warga Kabupaten Indramayu Jawa Barat itu ikut berebut air sisa jamasan. Tak hanya untuk cuci muka dan membasuh kaki, ia juga mengguyur tubuhnya dengan sisa air jamasan. “Saya percaya air ini membawa berkah. Karena sudah turun temurun kalau itu. Sudah sering ikut jamasan,” ujarnya kepada Radar Jogja.
Perempuan yang datang bersama dengan suaminya itu mengungkapkan, sebelumnya ia pernah tinggal di Jogjakarta. Karena itu sejak kecil kerap diajak orang tuanya untuk ikut prosesi jamasan kereta.
Setelah pindah ke Indramayu pun, ia bersama keluarga setiap tahun masih menyempatkan diri untuk datang dan mendapatkan air sisa jamasan. “Kami berangkatnya Kamis kemarin, sekalian wisata dan menjenguk saudara di sini. Tapi hampir tiap tahun pasti ikut prosesi ini,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga mengaku sengaja membawa satu jerigen agar dapat membawa pulang air jamasan ke Indramayu. Di sana nantinya air jamasan akan digunakan untuk ditaruh di sumur dan untuk menyiram sawahnya. “Biar lebih subur,” tandasnya. (riz/jko/ong)