SETIAKY A.KUSUMA/RADAR JOGJA
SLEMAN – Puluhan massa yang mengatasnamakan Forum Umat Islam (FUI) DIJ mendatangi sebuah rumah di Jalan Kaliurang Km 5,5 Gang Pandega Wreksa Desa Caturtunggal, Depok, Sleman yang disebut digunakan untuk aktivitas kelompok Syiah Rausyan Fikr, Jumat (23/10) siang kemarin. Mereka datang dengan menggunakan sepeda motor, bersurban dan mengenakan atribut FUI.
Mereka mendesak agar beberapa orang yang beraktivitas di tempat tersebut, tidak lagi menggunakan tempatnya untuk beraktivitas sesuai ajaran Syiah. Sebab mereka mengklaim, bahwa ajaran Syiah meresahkan warga Jogja.
Perwakilan massa kemudian melakukan dialog dengan ketua RT setempat dan Polsek Bulaksumur. Mereka bersikeras bahwa ajaran Syiah menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah sesat dan meresahkan, karena itu diminta untuk menghentikan aktivitasnya atau pergi dari DIJ. Setelah tidak ada titik temu, di antara kedua pihak, massa FUI sempat meninggalkan lokasi.
Namun tak berselang lama, puluhan masa Front Jihad Islam (FJI) giliran datang. Mereka disambut puluhan petugas polisi yang berjaga di depan gang. Perwakilan massa lantas menemui Ketua RT 9 RW 4 Manggung, Caturtunggal, Depok, Sleman, Gunawan.
Tiga orang perwakilan dari FJI kemudian diajak berdialog dengan kelompok Syiah Rausyan Fikr, polisi, pihak RT di rumah yang disebut digunakan untuk kegiatan Syiah. Dalam dialog tersebut, Komandan Laskar FJI, Abdurrahman mengatakan bahwa pihaknya mempersoalkan aktivitas kelompok Syiah tersebut.
Menurutnya, kelompok itu sudah dibubarkan karena dianggap sesat dan dilarang beraktivitas oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). FJI mendesak agar kelompok Syiah tersebut pergi dari DIJ.
“Kami mendapatkan laporan bahwa kegiatan Syiah Rausyan Fikr ini aktif lagi. Padahal sudah dilarang dan sudah dibubarkan. Ini saya membawa salinan surat dari MUI. Terus terang, kami ke sini untuk mengecek,” ujarnya.
Selain membawa surat yang menyebut Syiah sesat, ia juga mengklaim bahwa warga Jogja mengaku resah dengan adanya Syiah. Sementara itu, pimpinan kelompok Syiah setempat Ustad Sofwan mengungkapkan, ia bersama anggotanya selalu meminta izin beraktivitas dengan perangkat desa dan kepolisian.
Kegiatan yang mereka lakukan yakni kajian filsafat. Ia juga mengatakan bahwa warga sekitar tidak mempermasalahkan adanya kegiatan kajian dan keberadaan mereka di tempat tersebut.
Sofwan mengungkapkan, di tempat yang menyerupai rumah kontrakan berlantai dua itu ada sebanyak 14 anggota di kelompok yang biasanya ikut melakukan kajian, baik filsafat barat maupun Islam. “Kami tidak memiliki pikiran tertentu dan tidak eksklusif. Kalau dituduh ada penyebaran yang sesat bisa dicek ke masyarakat,” ujar lelaki yang sudah tinggal 22 tahun di lokasi tersebut.
Ketua RT 9 RW 4 Manggung Gunawan membenarkan bahwa kelompok Syiah itu selalu meminta izin setiap akan melakukan kegiatan. Bahkan, anggota kelompok Syiah tersebut juga ikut kegiatan warga kampung, termasuk ke masjid untuk ibadah berjamaah. “Masyarakat sekitar tidak merasa terganggu,” ujarnya.
Suasana dialog yang berlangsung selama hampir satu jam tersebut sempat memanas. Pemicunya adalah salah seorang perwakilan FJI yang berteriak dan menuding salah seorang kelompok Syiah melakukan provokasi. Ketegangan mereda setelah terjadi kesepakatan kepolisian akan mengawasi aktivitas kelompok Syiah tersebut dan masa membubarkan diri.
Kepada wartawan, Ketua RT 09/ 04 Dusun Manggung Desa Caturtunggal Bulaksumur Sleman Gunawan mengatakan, selama ini dirinya memang tidak pernah mengetahui isi kajian dalam kelompok tersebut. Namun kelompok tersebut berbaur dengan masyarakat dan tidak mengganggu warga sekitar. Oleh karena itu pihaknya hanya menginginkan keamanan kampung terjaga.
“Yang penting saya jaga kampung, saya tidak resah dan warga aman. Mereka yang disebut Syiah ikut kegiatan kampung di sini. Mereka juga jamaah di masjid seperti yang lainnya. Ada 19-15 orang dan masyarakat tidak terganggu. Kalau ada kajian mereka laporkan daftar nama dan kegiatannya,” ujarnya.
Sementara itu. juru bicara kelompok yang disebut Syiah, Fadlun, 22, mengatakan pihaknya hanya melakukan kajian keilmuan setiap pekan. Terlepas dari kajian tersebut berbau Syiah dan klaim bahwa Syiah sesat maka harus dibuktikan. Ia juga baru mengetahu apabila ada surat dari MUI yang menyebutkan Syiah adalah sesat. “Dialog dengan kemenag saat itu belum ada kesimpulan apa-apa. Saya tidak tahu kalau kemudian muncul surat itu,” katanya.
Namun menurutnya selama masyarakat sekitar lokasi tidak merasa terganggu, maka sebenarnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan. “Kami terbuka saja bagi siapa yang ingin berdialog. Kalau ada yang menyebut sesat, dibuktikan letak sesatnya di mana kita berdialog secara rasional,” ujarnya.
Sementara itu Kapolsek Bulaksumur Kompol Adjie Hartato mengatakan, pihaknya akan melihat dan mengkaji lagi apakah isi dari surat MUI yang dibawa ormas. Ia juga meminta kepada perwakilan ormas agar memberikan waktu untuk digelar dialog terkait kejadian tersebut. “Akan melihat isi surat dari MUI yang menyebutkan syiah itu sesat. Kalau debat di sini, tidak ada habisnya nanti kita tunggu waktu yang tepat,” ujarnya.
Pihaknya juga mengatakan, polisi akan terus mengawasi setiap kegiatan yang dilakukan. Hal itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. “Apa pun kegiatannya akan kami awasi. Untuk menjaga keamanan masyarakat,” tandasnya. (riz/jko/ong)