AGAM FOR RADAR JOGJA
PENGHARGAAN: Agam Budi Satria saat menerima piagam dari Presiden Unesco Club Guy Djoken bulan Maret lalu. Agam menerima penghargaan sebagai juara 2 US Federation UNESCO Clubs (USFUCA) Worldwide Multimedia Competition 2015.
“Indahnya dunia ini jika pemuda masih tahu perjuangan”. Kutipan dari Pramoedya Ananta Toer ini seakan menjadi pengharapan terhadap generasi muda agar bisa berdaya. Tak hanya berkemampuan untuk dirinya sendiri, namun juga bisa memberikan manfaat bagi sesama.
LEBIH baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Namun apa yang dilakukan para pemuda ini tidak hanya menyalakan lilin, namun menerangi satu pulau. Yakni Pulau Manyaifun, gugusan pulau yang masuk dalam Kabupaten Raja Ampat, Papua.
Kegiatan yang dilakukan Agam Budi Satria dan kawannya ini merupakan bagian dari kegiatan KKN UGM tahun 2014 lalu. Di tempat itu, mereka membuat penerangan menggunakan panel surya. Sebab, selama ini masyarakat hanya mendapatkan penerangan dari pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).
Di samping itu, biaya yang dikeluarkan juga sangat besar. Jika di Jawa harga solar Rp 7.300 maka harga di Papua bisa lebih dari dua kali lipatnya. “Jadi kalau di Jawa selalu demo setiap BBM naik, di Papua sudah biasa,” kata Agam saat berbincang dengan Radar Jogja, kemarin (27/10).
Dari situ, kemudian kelompok KKN-nya berinisiatif melakukan pembuatan panel surya untuk setiap warga di Manyaifun. Hasilnya, saat ini hampir semua rumah di pulau yang harus ditempuh selama empat jam menggunakan kapal dari ibu kota kabupaten itu sudah terbebas dari kegelapan.
Tidak berhenti sampai di situ, kelompok KKN itu kini berkembang menjadi Komunitas #Untuk Papua.
Setelah pulang dari KKN, ia mengetahui ada perlombaan US Federation UNESCO Clubs (USFUCA) Worldwide Multimedia Competition 2015. Yaitu perlombaan mahasiswa yang konsern dalam usaha menciptakan energi terbarukan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Pada kompetisi ini, ia mengirimkan video berdurasi tiga menit yang mengabadikan proses kelompok KKN-nya saat pemasangan panel surya di Pulau Manyaifun. Video ini berhasil meraih juara 2 dengan mengangkat keberhasilan program KKN PPM yang pernah dilaksanakan bersama teman-temannya di Papua Barat, Juli-Agustus 2014 lalu.
Video ini menceritakan tentang perjalanan 30 mahasiswa UGM dalam menghadirkan sumber energi terbarukan melalui pemasangan panel surya di Pulau Manyaifun. “Kebetulan tema kompetisi ini adalah Year of Light,” ungkapnya.
Ia menuturkan, kompetisi tersebut diikuti oleh ratusan pemuda dari 78 negara. Mereka ditantang berinovasi dalam memanfaatkan teknologi sustainable berbasis cahaya yang dapat digunakan bagi pendidikan, pertanian, kesehatan maupun energi.
Agam mengatakan, kompetisi itu dimulai sejak 17 November 2014 hingga 25 Januari 2015. Pada tahap penjurian dilakukan penilaian berdasarkan relevansi, kreativitas, orisinalitas, pengembangan, audiensi, serta kohesi. Setelah itu, pada 30 Maret 2015 pihak UNESCO mengumumkan Top Nine Winners, dan videonya masuk menjadi salah satunya.
“Juara pertama diraih universitas di India dengan pembangkit listrik dari turbin gelombang bawah laut. Posisi ketiga diraih ITS Sumba melalui listrik yang ditimbulkan dari ganggang,” terang Agam.
Sebagai bentuk apresiasi dari UNESCO-World Genesis Foundation, ia mendapatkan kesempatan menghadiri perkemahan musim panas, UNESCO Center for Peace Summer Cam di Maryland, AS bulan Agustus 2015 lalu. (riz/ila/ong)