MAGELANG – Polres Magelang Kota menetapkan seorang guru SD di Kota Magelang sebagai tersangka pencabulan siswi. Dalam kasus ini, tersangka merupakan Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) bernama Abdul Khaliq, 56, warga Secang, Kabupaten Magelang.
Pencabulan dilakukan saat ia mengajar 28 murid kelas I, II dan IV. Kini, pelaku mendekam di tahanan Mapolres Magelang Kota.
Terbongkarnya perbuatan dugaan pencabulan, setelah satu korban bercerita pada orang tuanya. Sebenarnya, telah ada upaya untuk diselesaikan secara kekeluargaan antara korban dengan orang tua korban. Namun, mereka ngotot melanjutkan proses hukum dan melaporkan ke Polres Magelang Kota.
“Ada upaya kekeluargaan dalam masalah ini. Akhirnya, dibawa ke ranah hukum. Yang jelas pencabulan dilakukan saat pelajaran. Pihak sekolah tidak tahu. Pencabulan dilakukan dengan menggosok alat kelamin murid. Tapi masih di luar pakaian,” ungkap Kepala Sekolah SDN Magelang 5 Ngadiran kemarin (28/10).
Akhirnya, enam orangtua siswi melaporkan kasus dugaan pencabulan yang dilakukan Abdul Khaliq tersebut. Menindaklanjuti laporan orangtua korban, penyidik Reskrim Polres Magelang Kota minta keterangan korban dan melakukan visum. Kepolisian juga mengamankan dan memeriksa Abdul Khaliq.
Kasat Reskrim AKP Herie Purwarto mengatakan, berdasarkan keterangan korban, saksi, dan hasil visum dokter, jadi dasar melakukan gelar perkara. Dari gelar perkara tersebut, akhirnya pelaku ditetapkan menjadi tersangka.
“Unsurnya pencabulan, perbuatan dilakukan secara berantai,” tutur Herie, didampingi Kasubag Humas AKP Esti Wardiani.
Menurut Herie, perbuatan pelaku melanggar UU Nomor 13 Tahun 2014 tentang perlindungan anak pada pasal 76 huruf e dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.
Ketua Women Crisis Center (WWC) Kota Magelang Wulandari mengatakan, WCC melakukan pendampingan terhadap korban dugaan pencabulan tersebut. Pendampingan yang diberikan termasuk memberikan pendampingan dari psikolog dan menyediakan tiga lawyer saat proses persidangan berlangsung.
“Kami berharap kasus ini diselesaikan dengan tuntas,” tegas Wulandari di sela-sela mendampingi korban dan orang tua murid saat menjalani pemeriksaan di Mapolres Magelang Kota.
Ia berharap, orang tua anak harus lebih berhati-hati dengan orang yang dekat dengan anak-anak. Kewaspadaan terhadap anak harus tinggi dan butuh kepekaan.
“Kasus ini tamparan buat Pemkot Magelang, masyarakat di lingkungan Disdik tidak ramah terhadap anak,” tegasnya.
Tersangka Abdul Klaliq di sela-sela menjalani pemeriksaan mengakui, perbuatan tersebut dilakukan, karena sejak tiga bulan lalu terkena penyakit diabetes (gula), sehingga menyebabkan gangguan ereksi. Karena itu, untuk menyalurkan nafsunya saat mengajar di kelas, ia memanggil siswi maju ke depan dekat meja.
“Dalam kondisi berdiri itu, siswi saya pegang. Perbuatan itu tidak diketahui siswa lainnya, karena terhalangi meja,” ungkap Abdul Khaliq saat diperiksa sambil menutupi wajahnya dengan stopmap warna merah.
Kakek dengan tiga cucu mengatakan, pasrah dengan kasusnya. Karena sakit gula, ia menyalurkan nafsunya dengan memegang kemaluan siswinya. Saat menjalani pemeriksaan tersebut, salah seorang istrinya menunggui di luar. Bahkan di sela-sela istirahat, istrinya sempat memberikan makanan dan minuman. Kini, sambil menunggu proses hukum lebih lanjut, pelaku mendekam di ruang tahanan Mapolres Magelang Kota.(dem/hes/ong)