SLEMAN- Warga yang memiliki hak pilih tetapi namanya nyasar di tempat pemungutan suara (TPS) yang tidak semestinya, tidak perlu khawatir.
Hasil rapat pleno KPU Sleman memutuskan, calon pemilih yang alamat domisilinya berbeda dengan lokasi TPS akan dimasukkan dalam formulir A5.
Formulir tersebut semacam surat pemeritahuan dari KPU sebagai sarana calon pemilih untuk menyalurkan hak pilihnya di TPS selain wilayah domisili yang bersangkutan.
Kebijakan itu ditentukan lantaran KPU tidak mungkin lagi mengubah daftar pemilih tetap (DPT) yang telah ditetapkan.
Dengan formulir A5, warga yang namanya tersasar di TPS lain tetap bisa menggunakan hak pilih di TPS terdekat dari rumah tinggalnya. “Ini untuk memudahkan pemilih menyalurkan hak pilihnya,” ungkap Ketua KPU Sleman Ahmad Shidqi.
Kemudahan lain berupa fasilitasi pengurusan formulir A5. Jika saat pemilu legislatif 2014 calon pemilih harus mengurus sendiri, pada pilkada akan ditangani oleh panitia pemungutan suara (PPS). Sebab, data pemegang formulir A5 bisa diketahui dari DPT.
Secara hak, pemegang formulir A5 tak berbeda dengan lainnya. Hanya, sesuai ketentuan KPU, mereka bisa menyalurkan haknya setelah pukul 12.00. “Intinya, pemilih tetap bisa menggunakan hak pilih di TPS yang semestinya,” tandasnya.
Munculnya kasus nama pemilih nyasar bermula temuan panwaslu Seman di Dusun Cokrogedok, Sidoarum, Godean. Sedikitnya 38 nama calon pemilih masuk DPT untuk TPS Desa Sidokarto.
Panwas meminta KPU mencari solusi agar penyerapan suara pemilih optimal. Jika tidak, panwas khawatir jarak antar TPS yang cukup jauh menjadi alasan warga untuk tidak menggunakan hak suaranya.
“Itu jaraknya hampir empat kilometer,” ungkap Anggota Panwaslu Sutoto Jatmiko. Saat ini panwaslu masih melakukan pendataan. Menurut Sutoto, jika masih ada nama tercecer masih berpeluang mendapatkan hak pilih dengan dimasukkan dalam DPT tambahan tahap dua.
Total DPT Sleman saat ini tercatat 776.047 calon pemilih. Dari jumlah itu, sebanyak 604 masuk DPT tambahan dan tersebar di 61 desa di 17 kecamatan.(yog/din/ong)