BANTUL – Tak ingin ketinggalan dengan kabupaten lainnya, Kabupaten Bantul juga berencana menggelar pertandingan tinju profesional. Ajang yang baru pertama kali diselenggarakan ini akan mempertemukan petinju-petinju yang cukup lama malang-melintang di pertandingan professional, di antaranya Galih dan Eri Slaber.
Galih merupakan petinju asli Bantul yang pernah menjadi juara nasional Asosiasi Tinju Indonesia (ATI). Sedangkan Eri Slaber juara nasional Komisi Tinju Profesional Indonesia (KTPI). Keduanya akan bertanding di kelas bulu Yunior (55,4 kilogram). “Memperebutkan sabuk emas bupati Bantul,” terang Kepala Kantor Pemuda dan Olahraga (Pora) Bantul Supriyanto Widodo, kemarin (28/10).
Semula, pertandingan digelar pada November mendatang. Tetapi, Kantor Pora kemudian memundurkannya pada 10 Januari 2016. Dalam rangka menjaga kondusifitas selama masa kampanye sebagai pertimbangannya.
Supri, sapaan Supriyanto Widodo, menegaskan, Kantor Pora melalui Koni tak sekadar membina dan mengembangkan berbagai cabang olahraga olahraga tradisional dan pendidikan. Lebih dari itu, Kantor Pora juga berkomitmen mengakomodasi sekaligus mengembangkan olahraga profesional. Penyelenggaraan olahraga tinju profesional sebagai salah satu buktinya. Agar seluruh olahraga berkembang. “Pak bupati sendiri sudah memberikan rekomendasi tinju pro ini,” tandasnya.
Suprapto, promotor DV Promotion menyatakan, lokasi pertandingan di gedung Gapensi. Selain kelas utama, ada empat kelas profesional lainnya yang akan dipertandingkan. Juga, pementasan sejumlah kesenian tradisional untuk menghibur para pecinta olahraga tinju.”Ini sebagai upaya menghidupkan kembali tinju profesional,” jelasnya.
Menurutnya, jarang sekali penyelenggaraan pertandingan tinju profesional di DIJ. Bahkan, dapat dibilang pertandingan tinju profesional di DIJ selama 20 tahun terakhir vakum. Itu sebabnya, promotor yang telah berulang kali menggelar pertandingan perebutan sabuk emas bupati di Jawa Tengah ini ingin menghidupkan kembali sekaligus mencari bibit petinju lokal melalui even serupa di DIJ. “Mencari bibit petinju susahnya minta ampun. Mayoritas orangtua tak setuju anaknya menjadi petinju,” keluhnya.
Suprapto tak menampik perkembangan olahraga tinju Indonesia kalah telak dibanding Thailand dan Filipina. Meskipun jumlah penduduk di dua negara itu tak sebanyak Indonesia.”Mungkin faktor beda kultur,” tambahnya.(zam/din/ong)