Oleh: Hasto Wardoyo

DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) “gembeng” berarti cenderung mudah menangis. Pemuda gembeng berarti pemuda yang cengeng, lemah semangat, tidak mandiri dan mudah tersinggung. Gaya hidupnya konsumtif, meskipun belum berpenghasilan sendiri dan masih sangat tergantung orang tua.
Tidak punya keberanian (tidak berani berjuang dan prihatin demi masa depan). Tidak mau bekerja keras, jauh dari jiwa patriot dan rasa kebangsaan, gaya hidupnya cenderung prakmatis dan tidak mengembangkan pola pikir kedewasaan.
Pemuda gembeng ini belum berprestasi sudah ingin berpenampilan perlente untuk mencari pujian (prestise), dalam bahasa Jawa durung pecus keselak besus. Banyak anak gedongan, anak mami, anak emas yang menjadi bagian dari pemuda gembeng ini.
Sementara pemuda tangguh tidak akan jauh dari semangat sumpah pemuda yang diharapkan bisa merefleksikan isi hati pemuda saat itu. Pemuda yang bersemangat tinggi, bersatu, membangun jiwa nasionalisme, mempunyai kecintaan tertinggi kepada tanah tumpah darahnya, bangsanya dan bahasanya sendiri.
Kalau sudah begitu bisa dipastikan mereka adalah pemuda yang gagah berani, bertanggung jawab, mandiri, tidak prakmatis melainkan sangat ideologis dan tidak cengeng. Mereka hidupnya pasti penuh perjuangan, keprihatinan, tidak konsumtif, jauh dari gaya hidup hura-hura dan punya rasa malu jika hanya menggantungkan diri pada orang tua.
Mereka tentu juga pemuda yang cerdas (pikirannya jauh lebih dewasa dari usianya), jujur, pekerja keras, berani berkurban untuk kepentingan orang lain tidak picik (hidupnya hanya untuk dirinya). Inilah pemuda tangguh, meskipun tidak perlente harus diakui sesungguhnya merekalah pemuda modern yang keren bukan pemuda gembeng.
Refleksi semangat Sumpah Pemuda selayaknya dimaknai dengan menggelorakan kembali semangat para pemuda untuk menjadi pemuda pejuang yang tangguh. Pemuda pejuang pengisi kemerdekaan, pembebas kemiskinan melalui karya-karya nyata.
Tahun 2015 menjadi tahun yang sangat strategis, karena bangsa kita akan memasuki perdagangan bebas Masyarakat Ekonomi Asia (MEA). Mau tidak mau, suka tidak suka kita harus menerima, meskipun kita belum siap dan kalah dalam bidang infrastruktur dan teknologi.
Ancaman globalisasi bagi bangsa yang belum siap bisa menjadi ancaman penjajahan ekonomi. Ciri-cirinya ada tiga, pertama negara kita dijadikan pangsa pasar produk asing, kedua bahan baku dieksport untuk industri asing dan ketiga uang asing diputar di dalam negeri untuk mendapatkan bunga yang lebih tinggi.
Itulah sebabnya momentum Sumpah Pemuda ini harus bisa mengubah pemuda yang gembeng menjadi tangguh. Pemuda gembeng harus berani bersumpah, merevolusi mental dan menumbuhkan karakter baru agar menjadi pemuda tangguh.
“Sumpah pemuda gembeng” inilah yang perlu dirumuskan, diciptakan dan dihayati bersama, agar memiliki daya ledak yang besar serta menjadi roh penggerak revolusi mental pemuda.Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 telah berhasil mempersatukan bangsa dan menjadi kekuatan besar bagi terwujudnya negara dan bangsa Indonesia yang berdaulat dibidang politik. Menjadi hasil perjuangan rakyat yang sekian ratus tahun tertindas kekuasaan kaum kolonialis.
Sudah tiba saatnya diperlukan gerakan baru “Sumpah Pemuda Jilid II” yang menjadi kekuatan besar untuk membangun negara Indonesia yang mandiri dalam bidang ekonomi.Agar pemuda menjadi tangguh dan mampu mewujudkan kemandirian dalam bidang ekonomi, minimal ada tiga tekad (sumpah) yang perlu diikrarkan:
Pemuda Indonesia berani berkurban dan berjuang :

  1. Untuk berlaku jujur, disiplin, berkarya dan kerja keras membangun hidup mandiri.
    2.Menciptakan gaya hidup sederhana, produktif, tidak boros dan tidak konsumtif
    3.Membela dengan membeli produk sendiri. Tiga unsur ini mengandung dua makna, yakni kedalam untuk merevolusi diri dan makna keluar untuk menghadapi globalisasi (MEA). Mari kita dukung gerakan-gerakan kewirausahaan dan ekonomi kreatif yang sudah dimulai oleh organisasi kepemudaan (OKP), Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) maupun Perserikatan Organisasi Kepemudaan Nasional (Poknas).

Pemuda sebagai agen perubahan dan motor utama penggerak pembangunan harus bangkit, jangan gembeng, hadapi dan lawan kekalahan teknologi di era globalisasi. Mari kita ikrarkan bersama tekad kita. Lawan teknologi dengan ideologi, bela dan belilah produk sendiri. (*)