Hendri Utomo/Radar Jogja
RUGI: Salah satu warga Sukoponco, Desa Sukoreno, Sentolo menunjukkan bangkai ayam yang mati mendadak.

KULONPROGO
– Puluhan ayam milik warga di Pedukuhan Sukoponco, Desa Sukoreno, Sentolo, Kulonprogo mati mendadak. Matinya unggas secara seporadis tersebut dikhawatikan ada kaitan dengan virus flu burung.
Sunarti, 56, warga Sukoponco mengatakan, kasus kematian unggas terjadi dalam dua minggu terakhir. Sedikitnya 75 ayam miliknya mati. Rata-rata berusia dua-tiga bulan. Takut rugi banyak, 20 ayam yang masih sehat ia jual sebelum sakit.
“Awalnya, ayam tidak mau diberi makan. Tahu-tahu, malamnya sudah mati,” ungkap Sunarti kemarin (29/10).
Wibowo, 30, menambahkan dari informasi ia terima, ayam-ayam milik tetangganya juga mengalami kejadian serupa. Ayamnya terlihat sakit, lesu, dan wajahnya pucat. Jaraknya tidak lama, saat ditemukan seperti itu selang beberapa jam sudah mati kaku.
“Hari ini lima ayam menyusul mati. Bangkainya langsung dibakar atau dibuang. Tidak tahu sakit apa,” lanjut putera Sunarti ini.
Surahmi, 38, warga lainnya mengungkapkan, belasan ayam miliknya juga mati. Pertama hanya ayam jago dan babon yang mati. Kemudian 10 anak ayam ikutan mati.
“Takut habis jadi bangkai, 16 ayam kampung yang masih sehat langsung dijual,” ungkapnya.
Mendengar informasi kematian unggas dalam jumlah banyak, Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (Diskepenak) Kulonprogo langsung mengumpulkan informasi. Ini dilakukan sebelum melakukan penanganan di lapangan.
Kepala Diskepenak Kulonprogo Sudarna menyatakan, pihaknya baru mendapat informasi soal banyaknya kasus kematian ayam di Sukoreno.
“Kami masih mengumpulkan informasi. Besok (hari ini), kami sampaikan tindak lanjutnya,” katanya.(tom/hes/ong)