Wanita yang berhubungan seks di sepanjang siklus mereka mungkin lebih baik dalam memerangi penyakit mematikan sekaligus meningkatkan peluang mereka untuk hamil.
Tapi sementara ahli telah mengetahui bahwa perempuan yang berhubungan seks disepanjang siklus mereka memiliki kesempatan yang lebih baik untuk hamil mereka belum bisa menemukan jawaban yang tepat mengenai hal ini.
Dua studi baru dari Indiana University yang diterbitkan dalam Jurnal Fertility and Sterility dan Fisiologi & Behaviorstudied menemukan bahwa melakukan hubungan seks disepanjang siklus wanita menciptakan perubahan fisiologis yang meningkatkan kemungkinan mereka untuk hamil.
Para peneliti menemukan bahwa wanita yang aktif secara seksual memiliki perubahan besar dalam sel T helper (yang mengelola respon kekebalan tubuh) serta protein yang menolong sel T untuk berkomunikasi.
Ada tingkat signifikan lebih tinggi dari sel T tipe 2 (yang membantu tubuh wanita menerima sperma dan embrio) pada wanita yang aktif secara seksual selama fase luteal dari siklus menstruasi mereka yaitu periode di mana lapisan rahim mengental dalam mengantisipasi kehamilan.
Para peneliti juga menemukan bahwa wanita yang aktif secara seksual memiliki kadar imunoglobulin G antibodi (yang melawan penyakit tanpa mengganggu rahim) selama fase luteal.
Akibatnya, mereka memutuskan bahwa tubuh wanita yang berhubungan seks di seluruh siklus mereka mungkin lebih baik untuk memerangi penyakit mematikan sekaligus menyambut sperma atau janin pada saat yang tepat.
“Kami tidak tahu pasti mengapa respon imun ini terjadi tapi mungkin bahwa seks bisa memicu perubahan pola hormon di siklus menstruasi wanita atau mengubah ovulasi. Akibatnya, sistem saraf otonom wanita bertindak berbeda selama siklus menstruasi,” kata penulis utama studi, Tierney Lorenz, PhD, seperti dilansir laman Yahoo Health, Minggu (18/10).
Mungkin juga ada hubungan antara paparan bakteri dari pasangan wanita dan meningkatkan kesuburan.
“Terpapar microbiome pasangan intim Anda (kombinasi dari bakteri, ragi dan organisme yang sangat kecil lain yang hidup di dalam kita semua) mungkin menantang sistem kekebalan tubuh dengan cara yang berbeda daripada jika tidak terkena microbiome itu,” kata Lorenz.
Ejakulasi seorang pria bisa juga merangsang atau menekan respon kekebalan pada saluran reproduksi wanita atau mengirim sinyal ke seluruh sistem kekebalan tubuhnya.
Tapi Lorenz juga mengatakan mungkin ada beberapa faktor lain seperti perbedaan dalam diet, tidur atau interaksi sosial di antara perempuan yang dan tidak berhubungan seks.(fny/jpnn/ong)