GUNTUR AGA/RADAR JOGJA
PENSARAN: Pengunjung melihat instalasi video yang ditempatkan dalam sebuah rumah pohon setinggi lima meter berjudul Voice Of Equator karya Anggun Priambodo yang dipamerkan dalam Biennale Jogja XIII Equator #3 di kompleks Jogja National Museum, Minggu (1/11).
JOGJA – Biennale Jogja XIII Ekuator #3 resmi dibuka di Jogja National Museum (JNM), Minggu (1/11). Mengangkat tajuk Hacking Conflict, penyelenggaraan Biennale kali ini melibatkan seniman asal Nigeria. Ini sesuai spirit yang diusung oleh Biennale Ekuator terhadap keterlibatan negara yang dilalui garis khatulistiwa.
Dalam pameran utama ada 34 seniman yang diundang, 11 dari Nigeria dan 23 dari Indonesia. Sebanyak 70 persen karya yang dipamerkan berbasis interaksi. Sehingga memacu interaksi pengunjung agar tidak hanya menonton.
Perhelatan seni rupa internasional ini berlangsung selama 40 hari ke depan. Selain menampilkan pameran karya seni, juga terdapat workshop. Kegiatan ini bertujuan melihat sejauh mana peta seni di kedua negara.
“Peristiwa seni yang mempertemukan dua negara dalam kacamata seni dan budaya. Bersamaan juga tahun ini merupakan perayaaan 50 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA). Jika dari KAA terjalin melalui politik dan ekonomi, kita melihat dari kacamata seniman,” ungkap Direktur Biennale Jogja XIII Alia Swastika.
Alia menjelaskan, pertemuan ini mengajak para seniman merespons peta dinamika. Terlebih bagaimana mereka menyuarakan aspirasi melalui karya seni. Sehingga, selain menghasilkan keindahan juga memberi kritik atas apa yang terjadi.
Tema merujuk bagaimana para seniman mampu meretas konflik yang terjadi. Tidak hanya melihat konflik sebagai permasalahan yang negatif. Namun, dari sebuah konflik dapat melahirkan komunikasi khususnya mewujudkan kreativitas.
“Konflik yang terjadi mampu melahirkan sisi kritis seniman. Bagaimana cara ini dapat mempengaruhi sudut pandang masyarakat terhadap peta sosial politik. Gerakan yang dibangun pun tidak frontal, namun memiliki nilai artistik, dan sarat pesan,” tegasnya.
Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Umar Priyono menilai, kehadiran Biennale Jogja sangatlah penting. Terlebih dengan tema yang diangkat dalam Biennale kali ini. Menurutnya, DIJ dengan keberagamannya rentan terhadap konflik.
Namun yang terjadi, konflik ini mampu dikelola dengan baik hingga melahirkan kekuatan. Bahkan dengan keberagaman ini mampu mewarnai eksistensi Jogjakarta, dimana mampu menyelaraskan dinamika dengan kehidupan masyarakatnya.
“Adanya konflik dapat menjadi opportunity hingga lahirlah kreativitas. Budaya bersifat lintas batas suku dan agama bisa menghasilkan sisi positif. Banyak pendatang masuk ke DIJ, ketika mereka masuk ke Jogjakarta mereka menjadi golongan pelat AB,” kata Umar mewakili Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X yang berhalangan hadir.
Sementara itu, dalam perhelatan kali ini ada beragam agenda dalam Biennale Jogja XIII. Setidaknya ada delapan komunitas yang terlibat dalam t. Salah satunya di Dusun Siraman, Gunungkidul mengacu pada pembuatan batik tulis. (dwi/ila/ong)