DOKUEMENTASI PRIBADI
Psikolog Ega Asnatasia Maharani M.Psi, Psi
Semua orang pasti dianugerahi bakat dan keahlian masing-masing. Tentunya untuk menajamkan bakat ini perlu perjuangan yang tidak mudah. Mulai dari tahapan mencari bakat hingga mengasah dan mengelolanya dengan baik.
TAK jarang bakat mampu melambungkan nama seseorang. Bahkan dapat menjadi identitas dan jati diri di kalangan masyarakat. Menurut psikolog Ega Asnatasia Maharani, M.Psi, Psi, bakat dapat lahir dalam beberapa tahapan. Bakat murni yang dimiliki sejak kecil, atau yang baru muncul ketika dewasa.
“Kalau bakat itu sebenarnya bisa terlihat sejak usia dini. Bisa jadi karena ada unsur bawaan atau hereditas dari orang tua juga. Namun bisa saja muncul di usia dewasa setelah mengasah keahliannya ini,” kata Ega ditemui belum lama ini
Menurutnya, untuk melahirkan dan menemukan bakat dapat dilalui dengan berbagai cara. Dengan melakukan stimulasi khususnya untuk anak usia dini. Menjajal beragam aspek bukan hal yang salah bagi seorang anak. Terutama untuk menemukan minat anak pada bidang apa.
Di usia dini ini dapat dilakukan beberapa tes. Seperti tes minat bakat yang bisa diterapkan untuk anak usia sekolah dasar saja. Sedangkan untuk tes inteligensi sangat dianjurkan sejak usia di bawah lima tahun.
“Jika anak atau individu dewasa memiliki bakat di satu bidang pasti akan terlihat. Tidak perlu kemampuan ekstra jika memiliki bakat di bidang tertentu. Bahkan akan dilakoni dalam waktu lama tanpa harus ada imbalan material,” katanya.
Sedangkan untuk remaja atau dewasa tidak ada kata terlambat untuk menekuni bakatnya. Dalam beberapa kasus, justru tidak sedikit yang menemukan bakat di usia yang tidak muda. Menurut Ega, yang diperlukan adalah konsistensi dan disiplin tinggi untuk merawat bakatnya.
Dalam kasus ini, lanjutnya, disiplin pendidikan dengan pekerjaan yang dilakoni. Seperti tidak sinkronnya disiplin ilmu dengan profesi. Menurut Ega, hal ini tidaklah salah, hanya saja cara pandang masyarakat yang belum terbuka.
Menurutnya, peran pendidikan dalam membentuk bakat juga penting. Sayangnya, sistem pendidikan yang dianut di Indonesia masih bersifat kognitif. Padahal, menurutnya, sangat ideal pula diterapkan aspek afeksi atau emosi, dan konasi yang terdiri dari keinginan, dorongan, dan motivasi.
“Dua aspek ini (afeksi dan konasi) tidak terlalu diperhatikan. Apalagi sekarang sudah banyak terbukti, prestasi akademik tidak selalu berbanding lurus dengan kesuksesan, karier, dan kebahagiaan. Tidak sedikit yang menemukan sukses diluar disiplin ilmu yang dia pelajari,” ungkapnya.
Ega menyampaikan, untuk menemukan bakat tidak harus berpatokan pada bidang akademik. Bakat dalam nonakademik tetap bisa ditemukan asal sesuai minat. Selain itu, dia juga mengungkapkan pentingnya untuk selalu open minded.
Melihat dan mempelajari sesuatu secara utuh. Terutama untuk menemukan minat dan bakat ke depannya. Sehingga tidak akan lahir istilah salah jurusan ketika memilih bidang yang bukan minatnya.
“Berbeda itu tidak selalu out of date kok. Dalam kasus ini remaja yang umumnya masih mengikuti tren. Mereka cenderung memiliki konformitas (persesuaian) yang tinggi yaitu keinginan untuk sama dengan kelompok sebayanya. Ini menutup celah bakat yang dimiliki, karena mencari minat bakat memang dari mengenali diri sendiri,” tutupnya. (dwi/ila/ong)