SLEMAN- Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sleman telah berusia 23 tahun per 31 Oktober 2015. Butuh waktu cukup panjang bagi PDAM menjadi badan usaha milik daerah yang bisa berkontribusi pada pemerintah maupun masyarakat.
PDAM baru bisa memberi keuntungan dalam bentuk uang sejak 2012. Bahkan, sejak lahir sampai 2010, perusahaan penyuplai air bersih tersebut selalu merugi. Karena itulah, di bawah kendali Dwi Nurwata terus berbenah. Yakni untuk memberi profit bagi pemerintah, namun tanpa menghilangkan fungsi sebagai lembaga sosial. “Pelan tapi pasti kami perbaiki sistem dan manajerialnya hingga mulai untung,” ujar Dwi, Sabtu (31/10).
Pada 2013, PDAM mampu berkontribusi pada pendapatan asli daerah (PAD) Sleman hingga Rp 1 miliar. Tahun ini, Dwi menargetkan lebih atau setidaknya sama. Melihat progres selama semester satu 2015, Dwi optimistis target bakal terlampaui. “Sampai saat ini laba bersih sudah lebih Rp 500 juta,” ucapnya.
Untuk kepentingan sosial, PDAM membuat program sambungan murah. Yakni, Rp 300 ribu air mengalir sampai rumah pelanggan. Dengan catatan, domisili pelanggan di kawasan eksisting jaringan perpipaan PDAM. Tarif yang dipatok tersebut jauh lebih murah dari harga normal yang mencpi Rp 1 juta.
Selain memberi kemudahan masyarakat, program sambungan murah dalam rangka menuju layanan 68 persen pelanggan dari total penduduk Sleman. Itu sesuai target nasional yang dicanangkan pemerintah pusat sampai 2019.
Saat ini, pelanggan terlayani baru 20 persennya. Sebab, selain PDAM ada dua instansi lain penyedia air bersih. Salah satunya PT Anindya, BUMD milik Pemda DIJ dan Swa Pamdes (pengelola air mandiri pedesaan). Kendati begitu, Dwi optimistis target tercapai sampai 2020. “Itu target realistis dengan capaian sekitar 2 ribu sambungan per tahun,”tandasnya.
Pejabat Bupati Sleman Gatot Saptadi mengapresiasi upaya PDAM yang mampu melepaskan diri dari jerat hutang dan kerugian.
Mengingat BUMD milik pemkab itu berstatus perusahn profit dan sosial, Gatot berjanji terus memberi dukungan untuk pengembangan PDAM. Bentuk dukungan berupa kebijakan regulasi dan dana penyertaan modal. “Yang penting PDAM harus bisa optimalkan penagihan pelanggan dan tetap melayani masyarakat, baik yang mampu maupun tidak mampu,” ingatnya.
Gatot berharap, PDAM ke depan bisa bermitra dengan pihak swasta untuk pengembangan bisnis dan layanan. Tujuannya agar pergerakan PDAM lebih fleksibel dalam mendongkrak jumlah pelanggan untuk memenuhi target nasionl.(yog/din/ong)