HERU PRATOMO/RADAR JOGJA
KEREN: Reynard Ardina dan Aurelia Kartika Dharma menunjukkan robot hasil kreasi mereka. Keduanya akan berangkat ke Qatar untuk mewakili Indonesia dalam World Robot Olympiad (WRO) 2015

Buat Robot Pencari Mutiara, Berkompetisi sampai Qatar

Usia Reynard Ardina dan Aurelia Kartika Dharma memang masih 12 tahun dan 10 tahun, tapi jangan meremehkan kemampuan mereka. Dengan kemampuan perakitan dan pemograman robot, mereka mampu mewakili Indonesia ke World Robot Olympiad (WRO) 2015 diQatar. Mereka mampu membuat robot yang bisa menyelam dan mengidentifikasi jenis-jenis mutiara di laut.
HERU PRATOMO, Jogja
KEDUA pelajar DIJ tersebut memang hanya menjadi juara ketiga dalam Indonesian Robotic Olympiad 2015 yang digelar oleh Mikrobot (Perwakilan LEGO Education di Indonesia) di Surabaya pada September lalu. Tapi, prestasinya tersebut diganjar dengan tiket menjadi peserta WRO 2015 yang digelar di Qatar pada 6-8 November ini.
Reynard Ardina merupakan siswa SMP Stella Deuce 1 Jogja. Sedangkan Aurelia Kartika Dharma adalah siswi kelas 5 SD Budi Utama Jogja. Mereka tergabung dalam Tim Ruby yang berhasil membuat robot yang bisa mengindentifikasi mutiara tersebut.
Reynard, sapaannya, mengatakan untuk membuat robot yang terbuat dari lego dan terdiri dari beberapa sensor butuh waktu setengah tahun. Reynard dan Aurel mengaku membuat sejak awal, dari desain, pemograman hingga perakitan robot bawah air tersebut.
“Sebelum berangkat ke Qatar, masih ada waktu untuk menyempurnakan robot,” ujar Reynard seusai bertemu dengan Wakil Gubernur DIJ Paku Alam IX di Kepatihan belum lama ini.
Reynard menjelaskan, robot Ruby tersebut mampu menyelam di dalam air untuk kemudian mengidentifikasi warna kerang yang didalamnya terdapat mutiara melalui sensor. Setelah kembali ke permukaan, robot tersebut akan mengeluarkan bola sesuai warna kerang.
“Temanya untuk yang kategori usia dibawah 13 tahun memang penjelajah bawah air,” ujar Reynard yang lebih banyak bicara dibanding Aurel.
Ketika ditanyakan tentang kesukaannya terhadap robot, Reynard mengaku menyukai robot karena sering menonton film Transformer. Kesukaannya tersebut, membuatnya bercita-cita menjadi ahli robotika. Hal itu pula yang memotivasi Reynard untuk membuktikan kemampuan robot asal Indonesia mampu mengalahkan robot dari negara lain.
“Awalnya suka nonton Transformer, akhirnya ingin membuat robot,” ujarnya anak kelahiran 10 April 2003 tersebut
Sementara Aurel mengatakan, ketertarikannya terhadap robot karena kesukaannya mengotak-atik teknologi yang ada di sekitarnya. Karena itu, Aurel juga berkeinginan supaya di masa depan bisa menciptakan robot yang membantu manusia. “Kan keren kalau bisa membuat robot yang bisa membantu orang lain,” ujarnya.
Meski sudah mampu merakit robot, sifat polos anak-anak masih terlihat. Saat ditanyakan tentang biaya pembuatan robot, kedunaya mengaku tidak tahu pasti berapa. “Piro?” tanya Reynard ke Aurel. “Aku ora ngerti,” jawa Aurel polos.
Keduanya pun lantas bertanya kepada Faqih Satriya Rahman, yang merupakan Regional Manager Robotics Education Center Jogja. Menurut Faqih, satu robot Ruby butuh biaya sekitar Rp 7 juta dan butuh lebih dari satu set lego. Reynard dan Aurel memang bukan kakak beradik, keduanya merupakan siswa Robotic Education Center Jogja yang khusus melatih anak-anak usia 4 hingga 18 tahun.
Keberhasilan pelajar asal DIJ berangkat ke kompetsisi dunia, disambut baik oleh Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan DIJ. Di antaranya dengan mulai mengembangkan kegiatan komunitas robotic di sekolah mulai SD hingga SMA.
Menurut Kepala Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan DIJ Singgih Rahardjo, kendala yang dihadapi dari biaya karena kebutuhan membuat robot butuh biaya yang besar. Kebetulan, lanjut Singgih, DIJ mendapat hibah 50 prosesor yang akan diberikan ke sekolah yang mempunyai minat, membina, dan mengembangkan kegiatan robotic.
“Saat ini sudah ada 24 sekolah yang mengajukan proposal,” ujarnya.
Rancananya, pada pertengahan November ini, pihaknya akan menggelar pelatihan dan seminar tentang robotic di sekolah-sekolah di DIJ yang berminat. Singgih menambahkan, setelah terbentuk komunitas robotic di sekolah, pada 2016 akan diselenggarakan lomba robotic. “Kami fasilitasi juga peralatan dan pembinaan yang dibutuhkan,” ungkapnya. (ila/ong)