SLEMAN- Korban keracunan masal es buah di SDN 5 Sleman pada Jumat (30/10) ternyata lebih banyak dari laporan awal. Dari semula 28 anak, ternyata sedikitnya 62 siswa mengalami keluhan mual dan muntah. Hasil investigasi Dinas Kesehatan Sleman menunjukkan sekitar 103 siswa mengonsumsi es buah melon tersebut. Sebagian siswa tak mengeluh sakit.
Karena itu, dinas merasa perlu melakukan cek laboratorium sampel sisa jajanan menyegarkan itu. Kepala Dinas Kesehatan Mafilindati Nuraini mengatakan, hasil uji laboratorium bisa bicara tentang pengaruh zat yang terkandung dalam es buah terhadap kesehatan tubuh manusia. “Hasil uji laboratorium paling tidak dua minggu,” jelasnya kemarin (2/11).
Nah, tidak mau kecolongan kasus serupa, Pemkab Sleman memperketat pengawasan pedagang kaki lima (PKL) asongan, khususnya penjual makanan kecil keliling yang biasa mengkal di sekolah-sekolah.
Pengawasan awal menjadi tugas sekolah bersangkutan. Pihak sekolah diimbau mendata semua PKL yang biasa mangkal pada jam istirahat atau saat sebelum masuk dan pulang.
Harus dipastikan, semua PKL merupakan binaan pemerintah dan tergabung dalam paguyuban. Hanya PKL yang masuk paguyuban memperoleh sosialisasi keamanan pangan dari dinas. Selain itu di luar kontrol pemerintah. Termasuk pedagang es buah yang diketahui baru pertama kali jualan di SDN 5 Sleman.
Mafilinda menegaskan, setiap PKL harus menyajikan makanan yang bersih dan sehat, tanpa mencampurkan bahan berbahaya pada produknya. “Kalau yang tak masuk paguyuban memang menyulitkan kami untuk sosialisasi,” katanya.
Pengawasan rutin sebenarnya telah dilakukan dinas. Setiap jajanan diambil sampel untuk diuji laboratorium. Lalu, petugas akan menempelkan stiker bertuliskan tanda penggunaan bahan pangan aman di gerobak atau lapak PKL yang produk jajanannya tak mengandung zat berbahaya. Karena itu, Mafilinda mengimbau anak-anak dan orang tua siswa agar jajan di PKL yang tertempel stiker tersebut. “Langkah paling aman, orang tua sebaiknya meyiapkan bekal makan dan minum anaknya dari rumah,” ingatnya.
Bagi anak yang memang suka jajan diarahkan ke kantin sekolah. Dengan catatan, pengelola kantin harus menggunkan bahan makanan sehat.
Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) Sleman Kaisan Prabowo turut menyesalkan adanya kasus keracunan masal. Menurutnya, PKL asongan yang biasa mangkal di sekolah-sekolah bukan termasuk anggota paguyubannya. Kaisan mengklaim, setiap anggota APKLI selalu berusaha menyediakan produk higienis agar aman dikonsumsi pelanggan.”Anggota kami rutin mengikuti penyuluhan dari Badan POM tiap setengah tahun sekali,” ujarnya.(yog/din/ong)