ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
PAHAM RADIKAL: Letkol Kav Tumadi menunjukkan mainan berbau komunisme yang diamankan Kodim 0729, kemarin (3/11).
JOGJA – Warga dan masyarakat di Kota Jogja pasti ingat betul dengan simbol palu arit. Ya, kedua alat pertanian itu sampai saat ini masih menjadi logo partai politik terlarang PKI. Keberadaan logo itu pun otomatis terlarang beredar di Indonesia.
Tapi, di Kota Jogja, warga dikejutkan dengan peredaran logo tersebut. Bentuknya dibiaskan dalam sebuah mainan anak. Kini, pihak kepolisian dan TNI mengamankan mainan tersebut untuk menjadi barang bukti.
Penemuan mainan ramai diperbincangkan sejak Senin (2/11). Saat itu, beredar kabar jika salah satu toko mainan di kawasan Manding, Bantul dan daerah Kota Jogja tepatnya, Lempuyangan terdapat mainan berlogo palu arit.
Mainan anak itu berupa tentara menenteng senjata dengan tambahan bendera warna merah berlogo palu arit. Salah satunya ditemukan di sebuah toko di Jalan Wahidin Sudiro Husodo, Bantul. Di lokasi ini, petugas menemukan tiga buah mainan siap jual.
Kemudian belasan mainan kembali ditemukan di sebuah toko di kawasan Ngipik, Baturetno. Pemilik toko, Ny Daryono mengatakan, mainan yang dijualnya dibeli dari sebuah toko di Kota Jogja. “Beli dari toko Alfa di Jogja,” ucapnya.
Seluruh mainan yang ditemukan kemudian diamankan. Meski begitu, penelusuran keberadaan mainan ilegal masih terus dilakukan mengingat mainan itu dimungkinan dijual di toko lain. Mainan dengan logo palu arit ternyata tidak hanya ada di Bantul, mainan serupa ditemukan di Kota Jogja.
Di Jogja, mainan tersebut sudah beredar sejak setahun lalu, yang ada saat ini hanyalah sisa dengan jumlah yang tidak banyak, hanya delapan buah. Barang yang tersisa kemudian diamankan anggota Daninteldam IV/Diponegoro satu buah, tim intel Korem 3 buah, unit intel Kodim 1 buah, Polresta Jogja 2 buah, dan Polsek Gondomanan 1 buah.
Kepala Penerangan Korem 072 Pamungkas Mayor Inf M Munasik memastikan, pihaknya akan terus menelusuri keberadaan mainan dengan logo palu arit tersebut. Penelusuran tidak hanya untuk mengungkap asal barang tersebut, juga motif di belakangnya.
Disinggung terkait kemungkinan keberadaan mainan karena unsur kesengajaan, Kapenrem tidak membantahnya. Menurutnya, kemungkinan ke arah itu tetap ada, mengingat peristiwa serupa terjadi beberapa kali meski dengan media yang berbeda.
Kendati begitu, lanjut dia,yang perlu ditekankan kepada masyarakat adalah pemahaman bahwa gambar yang ada pada mainan adalah gambar organisasi yang pernah mencoba meruntuhkan pancasila. “Pemahaman itu yang lebih penting sekarang,” tegasnya.
Sementara itu, mengantisipasi berkembangnya komunisme, Kodim 0729 Bantul melakukan sweeping di dua toko, kemarin (3/11). Dua toko yang terletak di Ngipik, Baturetno, Banguntapan, dan di Jl Wahidin Sudiro Husodo Bantul ini di-sweeping karena menjual mainan anak-anak yang mengandung unsur komunisme. Setiap paket mainan berupa sejumlah karakter tentara ini dilengkapi dengan bendera berlambang palu arit.
Dandim 0729 Bantul Letkol Kav Tumadi menegaskan, bendera yang tercantum dalam satu paket mainan sebetulnya bendera negara Uni Soviet. Tetapi, dalam bendera tersebut terdapat sebuah simbol yang pernah digunakan PKI. Yaitu, palu dan arit.
“(Di bendera) ada lambang yang pernah digunakan ormas atau partai yang ingin mengganti dasar negara kita,” kata Tumadi.
Dalam sweeping ini, personel Kodim 0729 tidak menyita seluruh mainan. Hanya empat paket mainan yang disita untuk dijadikan sampel. Meski begitu, bendera yang melekat pada 27 paket mainan dari dua toko tersebut diamankan.
Tumadi menjelaskan, penjual tidak mengetahui bila ada lambang ‘terlarang’ dalam paket mainan yang mereka jual, karena ketidaktahuan akan simbol-simbol komunisme. Penjual hanya mengetahui dagangan yang mereka jual sekadar mainan anak-anak.
Lebih lanjut Tumadi menegaskan, peperangan di era sekarang tidak dengan mengangkat senjata. Peperangan modern jauh lebih kompleks, karena menggunakan beragam cara. Termasuk di antaranya, memanfaatkan mainan untuk memperkenalkan simbol-simbol komunisme kepada anak-anak.
“Khawatirnya, lama kelamaan simbolnya akan dianggap menarik oleh anak-anak. Jika seperti itu, akhirnya pahamnya masuk pula,” ungkapnya.
Agar kejadian serupa tak terulang, Tumadi berharap pemerintah menerapkan filter ganda terhadap produk-produk impor. Terlebih, Indonesia akan menjadi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Beragam produk dari berbagai negara Asean akan mudah masuk ke Indonesia. (zam/eri/jko/ong)