GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
MELEDAK: Sekuen foto detik-detik peledakan mobil yang sudah terpasang bom oleh Tim Jibom Gegana Polda DIJ dalam simulasi penindakan pelaku terorisme, di Denhanud 474 Paskhas, Jogjakarta, Selasa (3/11).
SLEMAN – Aksi teror bisa terjadi kapan dan dimana saja. Sejarah kelam aksi teror lewat bom bunuh diri masih menghantui. Sebagai antisipasi, peningkatan skill personel keamanan terus dilakukan. Hal ini penting, agar tak ada keraguan bagi setiap institusi saat melakukan tindakan pencegahan, maupun pengamanan.
Salah satunya lewat simulasi yang dilakukan di Lapangan Paskhas, kemarin (3/11). Setidaknya ada 150 personel yang terlibat. Kepala BNPT Komjen Saud Usman Nasution mengatakan, kegiatan simulasi sengaja mekanismenya dibuat sedemikan rupa. Sehingga tidak ada keraguan setiap institusi saat melakukan tindakan. Sebab menurutnya, aksi teror tidak dapat diperkirakan.
“Aparat keamanan kita latih agar siap dan tidak ragu-ragu. Apa yang dilaksanakan semua kasus diproses hukum. Ancaman terorisme sudah menurun, tapi mereka menyiapkan personel dan dukungan, kita tidak boleh lengah. Aparat terus kita siapkan,” katanya seusai menyaksikan simulasi, kemarin.
Kasubdit Pelatihan BNPT Kombes Pol Supriyanto menyebutkan, dalam latihan simulasi itu diikuti 150 personel dari berbagai satuan TNI-Polri di DIJ. Yakni mulai dari angkatan laut, darat dan udara juga dari Polri. Tim dipersiapkan jika aksi teror semakin meningkat dan mengarah pada jatuhnya korban jiwa.
“Kita lihat eskalasinya di Densus 88. Semakin lama eskalasi meningkat sesuai Peraturan Presiden No 12 tahun 2012 pusat pengendali ada di BNPT koordinasi pimpinan kendali di BNPT,” ujarnya.
Sementara itu, simulasi dilakukan secara serius. Suasananya dibuat senyata mungkin, begitu pula tingkat ketegangannya. Skenario yang dijalankan, terdapat dua orang pelaku teror yang berhasil dilumpuhkan pasukan gabungan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Sementara enam lainnya berhasil diringkus dan diamankan. Sebelumnya mereka melakukan aksi teror di sebuah rumah sakit dan hotel di Jogjakarta.
Kejadian bermula saat dari arah Solo, dengan menggunakan dua buah mobil kelompok teroris menuju sebuah hotel dan rumah sakit. Mereka mempersenjatai dengan senapan laras panjang, bom dan rompi bunuh diri. Dari dalam rumah sakit dan hotel terdengar letusan senapan. Dor, dor, dor, bunyi tembakan berkali-kali.
Sigap dengan keadaan, security hotel menekan tombol panik yang terhubung dengan Polresta Jogjakarta. Petugas kepolisian segera berdatangan. Petugas kepolisian yang tiba di tempat kejadian perkara (TKP) lalu melakukan perimeter pengamanan dengan memasang garis polisi.
Satuan K-9 dan JiBom yang berada di lokasi menemukan tas berisi bom yang selanjutnya berhasil dijinakkan. Berturut-turut tiba di TKP Tim Labfor, DVI dan Inafis Polda DIJ. Dalam olah TKP diketahui masih ada sebuah bom terpasang di sebuah mobil di area parkir hotel.
Melihat kondisi yang perlu penanganan sesegera mungkin, Kadensus melaporkan kejadian kepada Kapolri untuk meminta bantuan Menkopolhukam. Menkopolhukam kemudian berkoordinasi dengan Kepala BNPT guna diambil langkah-langkah yang diperkukan. Sebanyak 150 personel dari satuan gabungan diterjunkan.
BNPT lalu mengambil alih penanganan dengan melibatkan satuan dari Denhanud 474 Paskhas, Yonif 403 dan Satbrimob Polda DIJ. Tim menerjunkan negosiator agar teroris melepaskan sandera, namun tidak dipenuhi.
Melihat negosiasi gagal, setelah mendapat perintah, sniper dari salah satu gedung lalu melumpuhkan dua orang pelaku. Sebuah helikopter dari Polda DIJ tiba di TKP dan menurunkan empat anggota menuruni tali dengan cara rapelling. Upaya penyelamatan pun dilakukan.
Pasukan gabungan mendekati lokasi dan melakukan penindakan terhadap pelaku. Enam orang pelaku berhasil diringkus dan dibawa mobil lapis baja. Namun bahaya belum sepenuhnya hilang. Bom yang berada di sebuah mobil yang terletak di parkiran hotel belum dijinakkan. Setelah mengevakuasi semua penghuni hotel, petugas lalu meledakkan bom beserta mobil tersebut.
Kejadian layaknya di film-film Hollywood tersebut tidak benar-benar terjadi. Aksi penyelamatan itu merupakan simulasi latihan BNPT menghadapi terorisme di Lapangan Detasemen Pertahanan Udara 474 Paskhas, kemarin. (riz/ila/ong)