DWI AGUS/Radar Jogja
SENI tidak hanya dipandang sebagai wujud kreatif manusia. Melalui seni dapat melestarikan beragam nilai dalam budaya. Itu lah yang menginspirasi sosok Kinanti Sekar Rahina untuk mendirikan sebuah Sanggar Seni Kinanti Sekar. Sesuai rencana, sanggar tersebut akan diresmikan malam ini (5/11).
Sekar, panggilan akrabnya, menuturkan, saat ini, seni tidak hanya menjadi wujud keindahan. Setiap nilai luhur warisan nenek moyang pun tersirat dalam wujud seni. Sehingga sebagai generasi penerus, baginya, wajib melestarikan, menjaga dan terus menghadirkannya. “Itulah kenapa, saya tertarik mendirikan sanggar,” ujarnya
Menurutnya, dengan sanggar, maka akan terjadi proses belajar dan penularan. Selain tari, dalam sanggar seni juga mengajarkan tembang Jawa. Juga mengajak belajar membaca dan menulis aksara Jawa. “Ketiga hal antara tari, tembang Jawa dan aksara Jawa memiliki keterkaitan satu sama lain. Itu akan kami ajarkan di sanggar,” tandasnya.
Menurutnya, jika semakin banyak anak-anak menikmati masa kecilnya dengan kesenian, kebebasan bergerak, menari, menyanyi di tanah airnya sendiri, maka mereka semakin senang dengan keluhuran budaya bangsa. “Sehingga anak-anak bisa lebih menghargai hidup yang berkehidupan di tanah airnya,” kata perempuan kelahiran Jogjakarta 26 Juli 1989 ini.
Menurutnya, nilai-nilai ini sangat indah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini pula yang menginspirasi dirinya mendirikan sanggar seni. “Konsep dalam sanggar ini adalah melestarikan kesenian trades,” ujarnya.
Di satu sisi, Sekar menganggap sanggar seni sebagai ruang belajar. Di mana tidak hanya menjadi belajar bagi penari, juga dirinya. Meski memiliki jam terbang yang cukup tinggi, Sekar beranggapan belajar menjadi suatu hal yang wajib.
“Satu kesatuan dan dalam literatur Jawa saling berhubungan. Salah satu yang jelas adalah literatur di Keraton Jogjakarta. Bagaimana ketiga hal ini memiliki kaitan erat. Bahkan jika belajar tari juga harus bisa nembang dan juga baca tulis aksara Jawa,” imbuh Sekar. (dwi/jko/ong)