DEWI SARMUDYAHSARI/RADAR JOGJA
TANGGUH: Di usinya yang masih belia Adela berharap punya banyak kesempatan bertanding. Salah satu yang ditunggu-tunggu adalah tampil di PON 2016.

Sukses Menembus Dominasi Senior, PON 2016 Jadi Tantangan

Tidak banyak perempuan yang menggeluti olahraga keras seperti tarung derajat. Di antara yang sedikit itu, ada Adela Cynthia Devi yang lolos ke PON 2016 mendatang. Apa motivasi dara manis ini menjadi petarung?
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
GOR Soreang, Jawa Barat masih terasa asing begitu Adel dan tim tarung derajat DIJ menginjakan kaki. Adel, satu diantara sepuluh petarung dan satu di antara tiga petarung putri yang berangkat mewakili Jogjakarta untuk bertarung secara sportif memperebutkan tiket PON 2016.
Yang ada dibenak begitu campur aduk. Terlebih lagi, mengikuti kejuaraan selevel Pra PON adalah yang pertama kali dalam hidupnya.
Petarung putri kelahiran Jogjakarta, 13 Maret 1998 ini sempat dibuat kaget sekaligus deg-degan. Maklum, kelas tarung yang diikutinya yakni kelas 50,1-54kg putri adalah kelas dengan jumlah peserta terbanyak yang mencapai 17 orang. Terlebih lagi, juara PON dua tahun lalu ada di kelas yang sama.”Mana semuanya senior dan udah pernah ikut kejuaraan nasional,”ujarnya.
Tak ingin berlama-lama minder, Adel dan petarung DIJ lainnya pun saling memotivasi diri. Saling membangkitkan semangat berjuang dan bertarung maksimal. Dan tibalah waktunya petarung yang masih duduk di kelas 12 SMAN 9 Jogja ini bertanding.
Babak demi babak dilalui. Dan tak disangka, Adel berhasil masuk ke babak perebutan perak. Sebuah prestasi tersendiri yang membuatnya semakin semangat untuk bisa meraih yang terbaik. Namun, lawan yang dihadapi memang berat, bahkan yang paling berat sejak awal petarungan dirinya di kejuaraan nasional itu.
“Di ronde pertama aku sudah cedera. Kang Dedih bahkan sempat bilang kalau tidak kuat jangan dipaksa. Tapi aku tidak mau menyerah begitu saja, akhirnya aku memutuskan untuk lanjut walaupun sakit,”ujarnya yang akhirnya berhasil meraih medali perunggu.
Sama dengan pendapat kebanyakan orang, tarung derajat adalah olahraga beladiri keras. Selain itu, masih jarang sekali perempuan yang tertarik apalagi menggelutinya secara serius. Namun, dia tidak sependapat dengan orang yang mengatakan tarung derajat adalah beladiri yang brutal, keras dan bahkan terlihat “jalanan”. Setelah mengenal dan belajar sendiri soal teknik-tekniknya, menurutnya, tarung derajat jurusnya lebih efektif dan menantang. “Dulu pernah sempat ikut taekwondo, tapi setelah coba tarung derajat, jadi lebih tertantang,”ujarnya.
Adel mulai serius berlatih sejak masuk bangku sekolah menengah. Dukungan orangtua yang begitu besar, membuatnya semakin merasa nyaman menggeluti olahraga beladiri ini. Sang mama, bahkan tidak pernah absen mendampingi ketika berlatih dan bertanding. “Support mereka luar biasa, dan mereka percaya bahwa aku bisa membagi waktu antara sekolah dan latihan. Itu yang membuat aku semakin mantap melangkah,”ujar peraih medali emas Porda DIJ 2015 ini.
Usianya masih muda, dan masih banyak arena tanding yang siap menanti di depan mata. Salah satunya PON 2016. Semoga sukses Adela.(din)

  • Sang Mama Selalu Dampingi Saat Berlatih dan Bertanding