SLEMAN – Diduga mengalami permasalahan pada bagian roda depannya, pesawat Batik Airdengan rute penerbangan Cengkareng, Jakarta-Jogjakarta ID 6380 tergelincir saat mendarat di Bandara Adisutjipto Jogjakarta, Jumat (6/11) sore. Beruntung, tidak terdapat korban jiwa dalam kejadian tersebut. Hanya ada dua yang shock, dan satu penumpang atasnama Ny. Furia menjalani perawatan karena pingsan.
Public Relation Manager Lion Air Grup, Andy M.Saladin menjelaskan, sesaat setelah mendarat, pilot sudah berkomunikasi dengan pihak Lion Air. Sebelum insiden terjadi, diketahui bahwa posisi ban depan pesawat dan belakang tidak berjalan dengan semestinya. “Posisi pesawat ban depan yang keluar dari runaway dan belakang pesawat masih berada di atas runaway,” jelasnya singkat.
Pesawat dengan pilot Kapten Oscar Mirza diketahui mengangkut sebanyak 161 penumpang. Yakni dengan rincian 158 dewasa, dua anak, dan satu balita. Pada saat kejadian, yaitu sekitar pukul 15.00 WIB, wilayah Jogjakarta memang baru saja diguyur hujan. Sehingga dimungkinkan, landasan cukup basah dan licin.
Selanjutnya para penumpang langsung dievakuasi oleh pihak Lanud Adisutjipto bersama TNI AU. Dengan menggunakan bus, para penumpang bersama awak pesawat langsung diarahkan ke terminal. Kemudian berangsur-angsur, para penumpang pulang ke rumah masing-masing.
Komandan Landasan Udara (Danlanud) Marsekal Pertama TNI Imran Baidirus saat ditemui di sekitar lokasi kejadian usai mengevakuasi para penumpang mengatakan, semua penumpang dalam kondisi selamat. Di antara mereka tidak ada yang mengalami luka serius. Namun diakui, beberapa sempat mengalami shock akibat insiden overshoot pesawat tersebut.
“Semua penumpang sudah kami amankan, dan tidak ada yang terluka. Tapi ada yang shock satu sampai dua orang tadi. Selain itu, tidak ada gangguan apa pun,” katanya.
Setelah seluruh penumpang berhasil dievakuasi, petugas melanjutkan pemeriksaan terhadap fisik pesawat yang tergelincir. “Saat kami lakukan pemeriksaan, kerusakan ada di ban depan pesawat, posisinya ambles turun ke tanah,” jelasnya.
General Manager (GM) Bandara Adisutjipto Kolonel Pnb Agus Pandu Purnama ditemui usai membantu evakuasi memastikan bahwa pesawat segera ditarik dari landasan menggunakan alat berat. Akibat insiden tersebut, juga sempat membuat tiga penerbangan ditunda selama satu jam. Namun, tak ada keterlambatan lain, usai insiden pesawat Batik Air ini.
“Kami tegaskan bahwa hanya ada tiga penerbangan yang tertunda karena insiden ini. Selebihnya normal,” tegasnya.
Meski demikian, juga diakui adanya beberapa penerbangan yang terlambat mendarat. “Tapi malam ini sudah dibereskan. Saat tergelincir tadi pas ada hujan, tapi penyebab pastinya belum diketahui,” lanjutnya.
Sesaat sebelum tergelincir, seorang warga Jogobayan Marni yang tinggalnya berlokasi di sekitar bandara mengaku sempat mendengar suara seperti ledakan. “Sempat denger “buum” gitu tadi. Tapi saya juga tidak tahu persis apa itu karena pesawat atau yang lainnya. Tapi pas habis dengar suara, dapat kabar ada pesawat yang tergelincir,” kotanya yang ditemui di sekitar bandara.
Tergelincirnya pesawat di Bandara Adisutjipto tidak kali ini. Pada 2011 kejadian serupa terjadi, yakni saat pesawat Sriwijaya Air rute Surabaya-Jogjakarta. Beruntung saat itu juga tidak terdapat korban jiwa dalam pesawat yang mengangkut 129 penumpang ini.
Sementara itu dari pantauan Radar Jogja, terdapat satu penumpang atas nama Ny. Furia dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Udara (RS PAU) Hardjolukito Jogjakarta. Saat kejadian, dan proses evakuasi korban memang tidak apa-apa, namun pada akhirnya dia pingsan. Korban yang memiliki nama lengkap Furiana, 64, merupakan warga Tanjungria, Kecamatan Jayapura Selatan, Papua
Hingga tadi malam, korban menjalani rawat inap di kamar No. 322 A Rumah Sakit Pusat Angkatan Udara (RSPAU) Hardjolukito jogjakarta.(riz/jko/ong)