Rizal SN/Radar Jogja
KENALKAN: Kepala Kantor Bea Cukai Jogjakarta Muh. Sutartib saat menjelaskan tentang Bea Cukai di Sunmor UGM, kemarin (8/11).
SLEMAN – Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Jogjakarta melakukan sosialisasi tentang bea dan cukai, Minggu pagi (8/11) kemarin. Kegiatan yang dilaksanakan di pintu masuk Lembah UGM itu bertajuk Minggu Pagi Bersama Bea Cukai Jogja. Acara yang digelar saat Sunday Morning (Sunmor) itu mendapat banyak apresiasi dan antusiasme masyarakat.
Selain membagikan brosur dan minuman botol, masyarakat juga dihibur dengan pertunjukan band lokal. Ada pula obrolan ringan dan informasi mengenai bea cukai. Kepala Kantor Bea Cukai Jogjakarta Muh. Sutartib mengatakan, panitia juga menggelar booth (tenda) untuk memperkenalkan bea cukai kepada masyarakat Jogjakarta. Masyarakat dapat menanyakan dsn mendapatkan penjelasan tentang bea cukai.
“Di Jogja belum terlalu mengenal bea cukai. Lain kalau di kota pelabuhan seperti Jakarta, Semarang atau Surabaya. Sebab Jogja sendiri kegiatan ekspor impor tidak terlalu banyak, tidak terlalu signifikan. Karena hanya melalui pelabuhan udara, itu saja hanya 5 flight setiap harinya,” katanya kepada Radar Jogja.
Namun Sutartib mengatakan, kegiatan utama bea cukai di Jogja lebih pada cukai dan kawasan berikat. Yakni mengawasi 19 industri padat karya, yaitu industri yang dapat menyerap 2.000-3.000 pegawai. “Seperti pembuatan wig (rambut palsu), bulu mata palsu, garmen dan lainnya,” sambungnya.
Pihaknya melakukan pengawasan di kawasan berikat, yaitu fasilitas yang diberikan pemerintah ke dunia usaha. Industri itu mendapat penangguhan bea masuk dari pemerintah. “Kita bagikan brosur, dialog, tanya jawab, berusaha agar masyarakat mengenal. Kadang masih banyak yang belum tahu dan paham dengan cukai,” jelasnya.
Salah satunya ia mencontohkan pelayanan di Kantor Pos dan bandara, yang biasanya diutamakan. “Masyarakat awam mungkin mendapat kiriman ponsel dari luar negeri, padahal ada ketentuannya. Besaran jumlah tertentu harus ada izin dari Kominfo. Karena ketidaktahuannya, akhirnya merasa Bea Cukai mempersulit. Ada juga rokok kalau membawa atau masuk ke Indonesia, ada ketentuannya. Ini yang salah satunya kami sosialisasikan,” ungkapnya.
Selanjutnya ia berharap masyarakat bisa lebih tahu dan sadar dengan masalah kepabeanan. “Jangan apatis, pelajari bea cukai. Karena selalu bersinggungan dan berhubungan dengan masyarakat,” tandas Sutartib. (riz/laz/ong)