SLEMAN- Perhelatan pilkada serentak 2015 menjadi perhatian serius Polres Sleman. Terlebih, pilkada kali ini hanya diikuti dua pasangan calon. Kondisi itu ditengarai berpotensi lebih besar memicu gesekan antar massa pendukung dua paslon. Apalagi, aksi demonstrasi melibatkan ratusan orang sempat mewarnai perjalanan pilkada Sleman dalam sebulan terakhir.
Demi mencegah munculnya aksi anarkis massa, Polres Sleman menyiapkan sedikitnya 670 personel untuk pengamanan selama masa kampanye terbuka mulai pertengaan November.
Dan saat pemungutan suara 9 Desember disiapkan 1.500 pasukan. Mereka akan disebar di tiap tempat pemungutan suara (TPS) dan titik-titik rawan konflik. “Saat debat terbuka kami juga siapkan pasukan,” ujar Kapolres AKBP Faried Zulkarnain kemarin (8/11).
Fokus konsentrasi pasukan di tiap ruas jalan yang berpotensi menjadi titik temu masa pendukung dua paslon.
Kampanye terbuka juga menjadi prioritas pengamanan. Hanya, demi menjaga situasi tetap kondusif, Kapolres mengingatkan tim pemenangan masing-masing paslon agar mengikuti ketentuan KPU. Baik dari pengaturan jadwal kampanye sampai pembatasan jumlah masa pendukung yang boleh ikut kampanye atau debat terbuka. “Sampai kemarin belum ada yang mengajukan jadwal kampanye terbuka,” lanjutnya.
Ketua KPU Sleman Ahmad Shidqi mengatakan, kampanye rapat umum terbuka dibatasi maksimal 10 ribu orang. Jumlah itu yang boleh mendapatkan jatah konsumsi dari anggaran dana kampanye masing-masing paslon. Biaya makan minum masa pendukung dibatasi Rp 25 ribu/orang. “Rapat umum terbuka hanya sekali selama kampanye,” jelasnya.
Selain itu, paslon boleh menggelar kampanye rapat terbatas sebanyak 48 kali. Tiap kegiatan dibatasi maksimal seribu undangan.
Saat debat terbuka, tiap ppaslon hanya boleh membawa paling banyak 50 orang pendukung.(yog/din/ong)