KUSNO S UTOMO/RADAR JOGJA
NGURI-URI: Peserta lomba Berbusana Mataram Gaya Jogjakarta yang diselenggarakan di Pendopo Yayasan Notokusumo Pakualaman, kemarin (8/11).
JOGJA – Lomba berbusana Mataram gaya Jogjakarta mendapatkan respons luar biasa dari kalangan generasi muda. Terbukti, acara yang baru kali pertama digelar itu diikuti ratusan peserta. Mereka datang dari berbagai kalangan mulai siswa SD, SMP, SMA, dan kategori umum.
“Ada 251 peserta yang berpartisipasi,” ungkap Ketua Panitia KRTH Djati Widjajadiningrat di sela acara di Pendopo Yayasan Notokusumo Pakualaman, kemarin (8/11).
Lomba berbusana Mataram gaya Jogjakarta itu diselenggarakan Kawedanan Seni dan Budaya Urusan Museum Pura Pakualaman bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIJ. Menurut Djati, kegiatan tersebut sebagai upaya menangkal pengaruh budaya asing. Selain itu, dengan lomba tersebut menjadi langkah menyosialisasikan busana adat Mataram Jogjakarta di kalangan anak muda. “Kami akan upayakan acara ini sebagai agenda tahunan,” ungkapnya.
Lomba yang dibuka Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Umar Priyono itu diawali dengan tampilnya sejumlah peserta putri siswa SD. Dilanjutkan peserta kategori SMP, SMA dan umum. Umar yang datang didampingi Kepala Bidang Sejarah Purbakala dan Museum Dinas Kebudayaan DIJ Erlina Hidayati mengaku bangga dan gembira dengan penyelenggaran acara tersebut. Apalagi dengan tinggi antusiasme peserta. “Saya berikan apresiasi,” kata Umar.
Dikatakan, dengan lomba itu membuktikan busana adat Mataram masih tetap lestari di masyarakat. Bahkan tradisi itu juga diikuti generasi muda. “Ini artinya anak muda ikut nguri-uri budaya bangsa,” kata Umar.
Salah satu peserta Adinda Putri Pertiwi mengaku, tertantang saat mengikuti acara tersebut. Dinda, sapaan akrabnya, merupakan siswi kelas 2 SMAN 1 Jogja. Dia ditunjuk menjadi duta mewakili sekolahnya. “Saya senang mengikuti acara ini karena baru pertama kali,” katanya dengan wajah sumringah.
Pelajar kelahiran Ngawi, 2 Mei 1998 itu menjadi peserta karena saat peringatan Hari Kartini 21 April 2015 di sekolah merupakan satu-satunya siswi yang mengenakan busana kebaya adat Jawa secara lengkap. Ini membuat sekolah memberikan penghargaan dengan menunjuknya sebagai duta dalam lomba berbusana Mataram gaya Jogjakarta tersebut.
Dinda juga berharap acara semacam itu lebih sering diadakan. Dengan begitu, masyarakat khususnya anak muda menjadi lebih dekat dengan busana karya bangsanya sendiri. (kus/ila/ong)