GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
ASAH KREATIVITAS: Sejumlah warga binaan melukis bersama bertemakan Guyub Agawe Santosa di Lapas Kelas IIA Wirogunan, Jogja, Senin (9/11). Kegiatan tersebut diadakan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan dan sebagai bentuk apresiasi serta aktualisasi diri para warga binaan.
JOGJA – Ada yang berbeda di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Wirogunan, Jogja, Senin (9/11) kemarin. Sekitar seratus warga binaan mengadakan kegiatan melukis bersama. Bahkan maestro lukis Jogjakarta seperti Nasirun dan Kartika Affandi juga hadir dan melukis bersama para narapidana.
Kegiatan melukis bersama bertajuk Guyub Agawe Santoso ini diadakan dalam rangka menyambut Hari Pahlawan yang jatuh pada hari ini, 10 November. Dengan menghadapi sebuah kanvas berukuran tak lebih dari 50×50 cm, para warga binaan yang mempunyai bakat melukis tampak serius dengan memegang kuas di tangannya. Sapuan-sapuan kuas yang berisi cat warna membuat gambar yang dibuat semakin jelas. Ada yang sedang menggambar kaligrafi, pemandangan, dan benda-benda di sekitarnya.
Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM I Wayan Kusmiantha Dusak mengatakan, melukis bersama tersebut merupakan salah satu program pembinaan untuk para narapidana. Menurutnya, dengan melukis bisa menjadi jalan untuk para narapidana mengaktualisasikan diri dan berpartisipasi aktif ketika nanti sudah berada di tengah masyarakat. “Ada energi-energi yang harus mereka kembangkan. Selama ini, energi yang mereka kembangkan lebih banyak negatif, seperti merampok dan mencuri,” kata Dusak di sela acara.
Menurutnya, dengan melakukan kegiatan seni bersama bisa mengajarkan para narapidana untuk mengolah rasa dan menjaga hubungan sesama. Oleh sebab itu, lanjutnya, rasa tersebutlah yang mesti bisa terbentuk dan tertanam pada setiap narapidana. “Mereka bagian dari masyarakat yang akan kembali ke masyarakat juga nantinya,” jelasnya.
Di samping itu, dari kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan motivasi kepada warga binaan selepas keluar dari tahanan. Sebab, menurutnya, setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses dan menjadi orang besar.
“Para pemimpin kita dahulu juga banyak yang pernah masuk penjara. Dari kegiatan ini, menjadi kesempatan mereka berubah dan memerdekakan diri mereka sendiri menjadi orang yang baik,” katanya.
Selain melukis, para narapidana di luar jumlah tersebut juga mementaskan kesenian tradisional jathilan. Disamping jathilan, mereka juga membawakan kesenian musik modern, seperti lagu pop, qasidahan, dan salawatan. Sementara para narapidana yang lainnya memilih menjadi penonton. Salah satunya terpidana mati kasus narkoba, Mary Jane Viesta Feloso.
Dusak menambahkan, acara seni yang melibatkan narapidana ini merupakan yang kedua kalinya. Sebelumnya juga pernah dilakukan di Lapas Pondok Bambu. “Rencananya, nanti akan ada festival berkebun. Ini untuk mengajarkan saling menyayangi terhadap apa yang dimiliki, baik diri sendiri atau orang lain,” ungkapnya.
Sementara itu, project manager kegiatan Emma Kismi Anna mengatakan, para narapidana dibebaskan dalam memilih konsep lukisan. Dalam acara itu, selain maestro seni lukis, sejumlah pegiat seni juga dilibatkan di dalamnya. Mereka yang terlibat di antaranya mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Jogjakarta, Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Ada pula Komunitas Cat Air Indonesia, dan Komunitas Malioboro.
“Selanjutnya, hasil lukisan para warga binaan tersebut akan dipamerkan dan dijual. Sehingga hasilnya dapat diberikan kepada para warga binaan untuk modal selepas bebas,” ungkap Emma. (riz/ila/ong)