PROAKTIF: Kepala PT Jasa Raharja DIJ I Ketut Suardika bersama Dirut RS Panti Rapih Jogja Dr Teddy Janong, M.Kes sepakat menjalin kerja sama terkait pendataan, penanganan dan penyelesaian santunan pasien korban kecelakaan lalu lintas.
logo-jasa-raharja
JOGJA – PT Jasa Raharja DIJ tidak ingin mengecewakan masyarakat. Sebagai perusahaan BUMN, Jasa Raharja terus meningkatkan pelayanan kepada korban kecelakaan lalu lintas dan angkutan umum. Upaya yang dilakukan yaitu mengutamakan langkah proaktif ketika ada sebuah peristiwa kecelakaan lalu lintas dan angkutan umum, baik darat, laut maupun udara.
“Pengurusan santunan di Jasa Raharja sekarang semakin mudah, cepat, dan tepat,” kata Kepala PT Jasa Raharja DIJ I Ketut Suardika, kemarin.
Komitmen itu merupakan implementasi slogan Jasa Raharja yaitu PRIME yang berarti Proaktif, Ramah, Mudah, Ikhlas, dan Empati. Karena itu, Suardika berharap kepada masyarakat ikut berpartisipasi untuk mewujudkan tekad tersebut.
Apabila ada peristiwa kecelakaan lalu lintas di jalan, segera melaporkan ke kantor polisi terdekat dan Jasa Raharja, setidaknya selama 1 x 24 jam. “Partisipasi masyarakat sangat membantu kerja Jasa Raharja dalam melayani korban kecelakaan,” tambah Suardika.
Setelah mengetahui adanya peristiwa kecelakaan lalu lintas, Jasa Raharja tidak tinggal diam. Petugas akan melakukan jemput bola, berkoordinasi dengan kepolisian dan rumah sakit tempat korban menjalani perawatan. Jasa Raharka akan menerbitkan surat jaminan biaya perawatan (Guarantee Letter) kepada rumah sakit, sehingga korban tidak perlu khawatir biaya perawatan.
Jika biaya perawatan melebihi batas jaminan, maka sisanya akan ditanggung oleh BPJS Kesehatan/Jamkesda, dengan syarat bila korban memiliki kartu BPJS Kesehatan/Jamkesda.
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan RI No 36 dan 37/PMK.010/2008 Tanggal 26 Februari 2008, besaran santunan bagi korban kecelakaan lalu lintas bervariasi. Untuk korban luka-luka pada laka darat dan laut nilai santunan perawatan maksimal Rp 10 juta dan Rp 25 juta untuk korban meninggal dunia atau cacat tetap. Sedangkan untuk laka angkutan udara nilai santunan perawatan maksimal Rp 25 juta dan Rp 50 juta untuk korban meninggal dunia atau cacat tetap.
“Sedangkan bagi korban laka yang tidak memiliki ahli waris akan mendapatkan santunan untuk biaya penguburan Rp 2 juta,” ungkap Suardika. (mar/laz/ong)