MAGELANG – Busana dari bahan daur ulang sampah cukup menarik perhatian. Ini terlihat saat lomba fesyen show di Gedung Wanita Kota Magelang, akhir pekan lalu.
Irda, 5, terlihat semangat dan berani memperagakan busana berwarna pink, disertai gerakannya yang luwes. Ia berhasil membuat beberapa pengunjung terpukau dan terhibur. Apalagi busana yang dikenakan dilengkapi aksesori lain. Seperti bandana, tas, dan sepatu. Semuanya merupakan hasil kreasi dari sampah plastik.
Ia bersama 58 peserta lain bergantian menunjukan bakat modellingnya pada lomba membuat baju anak dan peragaan busana dari daur ulang sampah yang diadakan dalam rangka ulang tahun Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Magelang ke-15. Ke-59 peserta merupakan anak anggota DWP dari berbagai unit Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Magelang. Berbagai kreasi dan inovasi yang menarik ditunjukkan anak-anak yang berusia 6-10 tahun ini, saat berlenggak-lenggok di panggung.
Gadis mungil ini memakai baju karya Tri Supriyanto yang mewakili DWP Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Kota Magelang. Akhirnya, Irda terpilih menjadi juara satu lomba fesyen show tersebut. Wajah sumringah tak bisa disembunyikan, saat juri mengumumkan dirinya menjadi juara pertama.
Ketua dewan juri Eni Supriyati mengemukakan, kriteria penilaian dalam lomba ini yang paling utama adalah bahan dasar sampah yang digunakan. Juri memberi nilai lebih, jika bahan yang digunakan ada aluminium foil. Alasannya, selain memiliki kualitas warna menarik, sampah plastik tersebut susah terurai dan hancur. Rata-rata peserta mengenakan busana yang terbuat dari sampah plastik. Seperti tas kresek, bungkus minuman kopi, sabun cuci, bungkus cokelat, serta ada yang memanfaatkan tutup air minum gelas.
“Biasanya kemasan plastik berbahan aluminium foil memiliki warna menarik di kemasan luar. Ini menjadi poin besar dalam penilaian. Jika dikreasi menjadi busana, pasti memberikan kesan warna yang indah,” katanya.
Selain bahan dasar yang menjadi penilaian, kreasi dan inovasi menjadi bahan pertimbangan. Begitu juga dengan keluwesan dan keberanian peserta saat memperagakan busana yang dipakai.
Ketua DWP Kota Magelang Demetrya Teti Sugiharto mengatakan, lomba ini digelar dalam rangka memberi edukasi soal pengelolaan sampah. Menurutnya, sampah plastik yang dibuang di tempat sampah, ternyata banyak manfaatnya jika dikreasi menjadi kerajinan.
“Harus harus cerdas mengelola sampah. Dengan memanfaatkan bahan daur ulang dari plastik, selain mengurangi volume sampah, juga dibuat berbagai kerajinan. Seperti baju, tas, vas bunga, dan lainnya,” katanya.
Sebelum digelar lomba, pihaknya mengadakan pelatihan membuat kerajinan berbahan dasar plastik pada anggota DWP Kota Magelang. Para juara lomba mendapat hadiah berupa piala, piagam, serta uang pembinaan.(dem/hes/ong)